Tekno

[REVIEW] Vivo V15 Pro: Jawaban Terbaik Untuk Pecinta Kamera

Febi Prilaksono | 08 April 2019 - 17:11
[REVIEW] Vivo V15 Pro: Jawaban Terbaik Untuk Pecinta Kamera

Perpaduan kamera pop-up 32MP dengan tiga kamera belakang beresolusi 48MP + 8MP dan 5MP adalah sesuatu yang sangat sulit ditandingi untuk kelas smartphone Rp 5 jutaan.

Geeq.id, Jakarta – Pengembangan pada kamera seperti menjadi formula agar ponsel bisa laris, terutama di pasar Indonesia. Pasalnya, permintaan terhadap ponsel dengan kamera yang bagus terus-menerus berdatangan dan direspon dengan baik oleh beberapa vendor. Saking baiknya, Vendor dari Negeri Tirai Bambu membawa smartphone dengan teknologi kamera yang nggak main-main, yaitu kamera pop-up 32MP dengan tiga kamera belakang beresolusi 48MP + 8MP + 5MP.

Yeap, vendor ini adalah Vivo yang baru aja merilis ponsel terbarunya, Vivo V15 Pro. Namun, apa iya Vivo V15 Pro cuma mengandalkan kamera doang? Kalau mau tau jawabannya, simak ulasan Geeqy berikut ini ya, Geeqs.

Unboxing

Kalau dilihat-lihat, kotak V15 Pro ini sekilas mirip dengan V15 biasa dengan embel-embel Pro. Ya emang mirip sih, paling bedanya ada gambar in-display fingerprint aja sekarang di bagian depan ponsel. Namun, Geeqy ngerasa perlu buat nyebutin apa aja yang ada di dalam kotak kardus ini, karena Vivo adalah salah satu brand yang jeroan di dalam kardusnya lumayan banyak, Geeqs.

Untuk setiap pembelian Vio V15 Pro, lo secara otomatis akan mendapatkan standar produk seperti ini:

  • Vivo V15 Pro
  • Charger
  • Kabel Micro USB
  • Earphone
  • Sim Ejector
  • Kartu Garansi
  • Panduan Ringkas
  • Case pelindung

Yeap, lo gak salah liat, baik Vivo V15 maupun V15 Pro emang udah tersedia earphone. Selain itu, case pelindung dari V15 Pro cukup unik dibanding case dari vendor-vendor lain. Alih-alih jelly case dengan warna transparan, Vivo V15 justru disertakan dengan case yang lumayan tambun dengan sisi-sisi berwarna hitam.

Body Tour

Punya dimensi 157.3 x 74.7 x 8.2 mm, dengan berat 185 gram, Vivo V15 Pro nggak mungkin bisa dikategorikan sebagai smartphone yang kecil. Namun, Vivo bisa mengakali ini dengan tepian melengkung yang membuat V15 Pro cukup nyaman untuk digenggam. Opini Geeqy pribadi, V15 Pro terasa sekel untuk digenggam, nggak kekecilan, dan nggak kegedan yang brutal juga.

Di bagian depan, dengan layar 6,41 inci, Vivo V15 Pro memiliki tampilan yang terbilang modern dan futuristik. Layar terpampang dengan sangat bersih, tanpa poni, atau tompel yang biasanya difungsikan sebagai wadah untuk menaruh kamera depan dan sensor lainnya. Sebagai pengganti dari poni dan tompel itu, V15 Pro ditanam modul kamera pop-up beresolusi 32MP. Layar yang bersih dan pure bezel-less ini menurut Geeqy adalah keberhasilan Vivo dalam memulai trend smartphone 2019.

 Pada bagian punggung, mungkin secara kasat mata nggak ada perbedaan cukup signifikan antara Vivo V15 Pro dengan saudaranya, Vivo V15. Tiga modul kamera yang terletak di bagian kiri atas dan dikemas berjajar ke atas dengan dudukan khusus membuat kesan premium pada bodi belakang dan tentunya membuat kamera lebih aman. Ditambah pindahnya fingerprint ke bagian layar, membuat bodi belakang terlihat lebih bersih.

Sayangnya, walaupun terlihat premium, ketika bodi belakangnya diketok, ternyata bodi belakangnya hanya menggunakan polycarbonate alias plastik. Makanya, dari pada terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, Geeqy saranin pakein casing tambahan deh kalo pakai ponsel ini untuk kebutuhan harian.

Selain itu, yang berbeda dengan Vivo V15 adalah sim tray yang terpisah dengan SD card tray. Sim tray sendiri berada di bagian bawah smartphone yang ditemani dengan speaker dan port USB yang sayangnya belum menggunakan USB type-C. Lalu di bagian kiri atas ada SD card tray ditambah adanya tombol khusus untuk mengakses Google Assistant. Di bagian kanan sendiri ada tombol volume dan juga tombol power, lalu di bagian atas ada port headphone jack dan juga pop-up selfie camera.

Urusan layarnya sendiri memang berbeda banget dengan versi regulernya yang menggunakan IPS LCD, karena Vivo V15 Pro udah menggunakan layar Super AMOLED yang tajam dan tone warnanya juga sangat hidup.  Anehnya, walaupun lebih mahal, tapi layar Vivo V15 Pro nggak dilindungi dengan Corning Gorilla Glass kayak versi regulernya. Makanya, jangan coba-coba nggak pasang pelindung kaca di ponsel ini kalo layarnya nggak mau baret-baret.

OS dan Fitur

Seperti jajaran smartphone Vivo lainnya, V15 Pro juga menggunakan user interface FunTouch OS 9.0 yang telah mengadaptasi sistem operasi Android 9.0 Pie. Dengan tampilan yang terkesan lebih pastel, pastinya membuat interface dari ponsel ini sangat-sangat memanjakan mata. Namun tentunya tone warna ini agak bersebrangan dengan desain smartphone-nya yang mengadaptasi warna gradasi yang lebih glosi dan mencolok.

Untuk urusan fiturnya sendiri, FunTouch OS 9.0 menawarkan banyak fitur-fitur yang mendukung aktifitas harian pengguna. Kita ambil contoh aja fitur Smart motion, Smart split, One-handed mode, dan fitur khusus pengendara motor. Mungkin fitur-fitur ini nggak banyak perbedaan dengan Vivo V15 versi reguler, yang berbeda adalah adanya tombol khusus Google Assistant yang ada di bagian kiri bodi smartphone.

Hadirnya fingerprint di balik layar juga bisa dibilang menjadi nilai tambah untuk Vivo V15 Pro ini. Karena, kalau melirik ke kompetitor-kompetitornya, sekarang smartphone kelas menengah memang udah mengadaptasi fingerprint di balik layar. Apa lagi fingerprint-nya V15 Pro ini udah sangat presisi dan cepet. Kalopun terasa kurang presisi, pengguna tinggal tambahin opsi add fingerprint dengan jari yang sama aja.

Lalu ada juga fitur khusus yang tersemat di bagian kamera, yaitu sistem artificial intillegence (AI) yang mereka sebut sebagai Jovi Image Recognizer. Dipadukan dengan kamera utama berukuran 48MP membuat hasil gambar yang dihasilkan menjadi lebih epic. Bagian kamera sendiri akan dibahas lebih mendalam di bawah ya Geeqs.

Yang disayangkan, setelah Geeqy ubek-ubek, Geeqy nggak menemukan adanya fitur equalizer untuk mengatur kualitas suara yang diinginkan. Padahal speaker Vivo V15 Pro sendiri udah keren banget dengan detail-detail bass, treble dan vocal yang detail, walaupun volume-nya sendiri memang kenceng dibandingkan dengan beberapa smartphone lainnya.

Udah gitu, yang Geeqy nggak suka dari FunTouch OS adalah selalu mempunyai bloatware alias aplikasi bawaan yang banyak banget. Ya, sekali lagi Geeqy ucapin, banyak banget. Ini bener-bener sia-sia, karena aplikasi bawaannya sendiri jarang Geeqy gunain. Walaupun dihapus dengan trik khusus, namun hal ini cukup mengganggu dan bikin kerjaan aja, kan?

Nggak cuma itu,  Vivo V15 Pro juga masih nggak punya fitur NFC kayak versi regulernya. Pas Geeqy tanya ke orang Vivo-nya, mereka menyebutkan karena di Indonesia pengguna NFC masih sedikit banget. Mungkin dari pernyataan itu bisa jadi benar untuk sekarang ini. Namun, untuk 2-3 tahun kedepan, mungkin ponsel ini bakal kurang cocok buat pengguna di Indonesia. Karena dilihat dari perkembangan teknologi di Indonesia, pembayaran non tunai udah mulai efektif, seperti untuk pembayaran tol, penggunaan transportasi umum, bahkan pembayaran parkir pun udah menggunakan uang elektronik.

Performa dan Baterai

Smartphone Vivo V15 Pro yang Geeqy pakai sekarang ini adalah yang versi RAM 6GB dengan internal 128GB. Memang sih, ada versi dengan pilihan RAM 8GB dengan internal yang juga 128GB, tapi menurut Geeqy sih pilihan RAM 6GB udah sangat cukup memadai buat penggunaan sehari-hari seperti untuk chatting, sosial media, nonton Youtube dan kebutuhan lainnya.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa Vivo V15 Pro masih menggunakan chipset Snapdragon seri 6xx. Memang sih, untuk smartphone seharga 5 jutaan, ada pilihan smartphone yang malahan udah menggunakan chipset Snapdragon 845. Namun dibandingkan dengan fitur-fitur yang ada dan desain yang disuguhkan, Vivo V15 Pro masih tetap juara. Apa lagi chipset Snapdragon 675 yang digunakan oleh ponsel ini udah mendukung kamera dengan resolusi besar yang tersemat di ponsel ini, yaitu 48MP.

Mungkin hal inilah yang juga menjadi pertimbangan kenapa Vivo akhirnya menggunakan chipset Snapdragon 675 dengan fabrikasi 11nm dibandingkan dengan chipset Snapdragon 710 ataupun 712 yang sudah fabrikasi 10nm namun hanya support kamera beresolusi 32MP. Lagi pula, beberapa tes benchmark dilakukan dengan beberapa smartphone, dan Snapdragon 675 memiliki skor lebih baik, tentunya dengan dukungan beberapa spesifikasi pendukung di smartphone tersebut.

Buktinya, pas dites main PUBG, game bisa berjalan lancar dengan framerate yang tinggi. Namun, ponsel ini hanya mendukung setting-an grafik sampai HD aja Geeqs. Tetep sih, nggak terlalu banyak ngaruh kecuali lo adalah pecinta game dengan grafik sangat realistis. Ya kalo kayak gitu, mending main game di PC dengan spek dewa aja, jangan di ponsel.

Urusan baterainya, bisa dibilang Vivo V15 Pro itu macem pakai obat kuat. Soalnya pas dicoba mainin game PUBG Mobile, ponsel ini kuat buat dapetin 6-8 winner-winner chicken dinner secara non-stop, itu pun kalo pengguna ponsel ini jago kayak Geeqy ya.

Selain itu, ponsel ini juga didukung fitur fast charging 18W yang pastinya membuat pengisian dayanya super cepet. Ketika dicoba, Vivo V15 Pro hanya butuh sekitar 1 jam 40 menitan aja buat isi dari baterai kosong sampai 100%. Udah baterainya tahan lama kayak pakai obat kuat, udah gitu ngisinya cepet lagi. Bisa main beronde-ronde deh nih.

Kamera

Beralih ke bagian kamera yang menjadi senjata utama ponsel ini, Vivo V15 Pro menggunakan modul AI Triple Camera pada bagian belakang alias utamanya. Yang membuatnya berbeda dengan versi reguler, kamera utama ponsel ini menggunakan kamera berukuran 48MP dengan diafragma f/1.8, 8MP ultrawide, dan 5MP depth sensor.

Ketika dicoba untuk mengambil gambar, hasilnya gambar terlihat lebih tajam dan tone warnanya lebih kaya. Apa lagi dengan adanya dua kamera tambahan membuat kamera utamanya bisa lebih dioptimalkan, seperti mengambil gambar yang lebih luas dan depth of Field (DoF alias bokeh) yang terlihat lebih natural dengan adanya lensa-lensa dedicated untuk pengambilan foto wide dan juga bokeh.

Lalu ke bagian kamera depannya, Vivo V15 Pro juga memiliki kamera depan ngumpet yang akan muncul dengan cara pop-up. Sebenernya nggak ada perbedaan pada kamera depan ponsel ini dengan versi regulernya, yaitu sama-sama memiliki lensa berukuran 32MP dan fitur-fitur yang dapat mempercantik penggunanya.

Tanpa efek apa-apa

Dengan efek

Nggak tanggung-tanggung, pada aplikasi kamera bawaannya Vivo V15 Pro terdapat 13 opsi pengaturan pada fitur AI Beauty, mulai dari ngehalusin wajah, meniruskan pipi, mengatur lebar dahi, sampai bisa mengatur tinggi badan dan lebar badan. Jadi buat pengguna yang badannya agak jumbo, bisa dibuat lebih ramping lewat kamera ponsel ini. Hasilnya pun cukup natural buat seseorang yang kurang jeli ketika melihat hasil jepretannya.

Sebelum diet

Sesudah Diet

Di aplikasi kamera Vivo V15 Pro juga terdapat mode malam yang sesuai namanya, berguna untuk pemotretan di tempat yang gelap. Hasil jepretannya pun sangat apik, berterima kasihlah dengan lensa kamera utama ponsel ini yang berukuran 48MP, membuat hasil jepretan pada mode ini lebih minim noise alias bintik-bintik mengganggu.

Apa lagi fitur artificial intelegence (AI) juga sangat membantu dalam pengambilan gambar. Bisa dibilang untuk smartphone kelas menengah, kamera Vivo V15 Pro adalah juaranya yang juga kaya dengan fitur-fitur andalan. Pastinya, hasil foto dari ponsel ini nggak bakal malu-maluin pas di-posting di sosial media.

Kesimpulan

Pros

  • Paket lengkap, dapet casing dan juga earphone di setiap pembeliannya
  • Layar yang lebar tanpa poni dan bening karena menggunakan Super AMOLED
  • Udah Android 9.0 Pie
  • Bener-bener bisa dual-sim plus SD card
  • Performa di atas rata-rata smartphone kelas menengah
  • Baterai yang cukup awet
  • Fast charging 18W
  • Kamera utama dengan ukuran lensa yang besar, yaitu 48MP
  • Fitur Beauty yang beragam
  • Desain anti mainstream dan terkesan premium
  • In-display fingerprint

Cons

  • Belum USB Type-C
  • Nggak ada NFC
  • Bodi masih polycarbonate
  • Bloatware yang banyak

Untuk smartphone seharga Rp 5,7 juta kurang seribu, Vivo V15 Pro mungkin bisa dibilang salah satu yang terbaik untuk urusan kameranya. Kamera pada ponsel ini bisa diandalkan dalam segala keadaan, baik dengan pencahayaan yang cukup ataupun kurang. Jadi buat lo yang males bawa-bawa kamera kemana-mana, ponsel ini bisa dibilang cukup layak untuk menggantikan kamera DSLR ataupun mirrorless dengan harga cuma 5 jutaan. Udah gitu kaya akan fitur-fitur yang dapat menyokong aktivitas keseharian lo juga pula. Beli atau nggak? Semua kembali ke kebutuhan masing-masing ya Geeqs.

8.3

Nilai Keseluruhan
Design
9.0
Features
8.0
Performance
8.0
Film & TV

Begini Jadinya Kalo Jentikan Jari Thanos Benar-benar Terjadi di Bumi

Arya Despratama | 2 jam yang lalu
Begini Jadinya Kalo Jentikan Jari Thanos Benar-benar Terjadi di Bumi

Jentikan jari Thanos yang memusnahkan setengah populasi manusia telah menjadi masalah terbesar bagi para Avengers. Namun, apa jadinya kalo bencana itu benar-benar terjadi di Bumi? Simak di bawah ini, Geeqs.

Geeq.id, Jakarta –Avengers: Endgame menjadi akhir dari mimpi buruk para Avengers setelah Thanos memusnahkan setengah kehidupan alam semesta dengan kekuatan Infinity Stones. Seketika hampir semua orang berubah menjadi abu begitu sang penguasa Titan menjentikkan jarinya.

Peristiwa tersebut bisa dibilang sebagai kiamat kecil yang membuat umat manusia hilang secara massal. Namun, gimana jadinya kalo jentikkan jari Thanos benar-benar terjadi di dunia nyata? Apakah itu dapat membuat dunia menjadi lebih baik seperti yang diinginkan The Mad Titan?.

Dilansir dari Gizmodo, ahli paleontologi dari Rowan University, Glassboro, New Jersey, Amerika Serikat, Ken Lacovara, menjawab tidak. Ia berujar,

“Itu adalah ide yang buruk dilihat dari segi manapun."

Alasannya adalah efek dari jentikan jari Thanos gak akan berlangsung lama. Hal ini dikarenakan jumlah populasi manusia semakin bertambah dengan jumlah yang besar tiap tahunnya. Sebagai bukti, pada tahun 1960, populasi manusia di dunia berada di kisaran 3 miliar. Lalu, pada tahun 2000, jumlahnya bertambah jadi 6 miliar.

Itu artinya, kalo pertumbuhan manusia terus terjadi secara masif, dan terjadi hilang massal (3,8 miliar dari 7,6 miliar). Bisa dipastikan di 50 tahun yang akan datang, jumlahnya akan kembali seperti semula.

Lalu, bagaiman dengan nasib makhluk hidup lainnya? Ahli perilaku hewan dan evolusi manusia dari Keele University, Inggris, Janet Hoole, menjelaskan bakal ada ketimpangan spesies tergantung dari strategi mereka yang siklus hidupnya lebih lambat.

Dalam hal ini merujuk pada siklus hidup binatang. Hewan yang memiliki siklus hidup yang cepat akan lebih mendominasi dari mereka yang siklus hidupnya lebih lambat. Golongan pertama dapat diwakili oleh kodok yang bisa kembali pada populasi awalnya dalam waktu setahun. Bahkan nyamuk hanya butuh satu periode musim panas untuk berada pada posisi sebelum Thanos menjentikkan jari.

Sedangkan bagi binatang seperti harimau dan badak jawa, mereka justru akan terancam benar-benar punah. Pasalnya, peluang bagi spesies tersebut untuk melakukan reproduksi akan lebih kecil, dan itu membuat mereka semakin rawan akan ancaman perburuan serta penyakit.

Di sisi lain, ahli mikrobiologi, Ben Liberton, menjelaskan apa yang terjadi pada bakteri akibat efek jentikan jari Thanos. Fokusnya tertuju pada bakteri yang berada di tanah dan laut. Kalo setengah dari jenis bakteri tersebut lenyap, dan jumlahnya gak bisa kembali seperti semula dengan cepat, maka akan memberikan ancaman bagi kehidupan yang bergantung dari mereka. Salah satunya adalah tanaman.

Nah, kalo lo berada di posisi itu, kira-kira apa yang bakal lo lakukan, Geeqs?

Subscribe to our newsletter

CONNECT WITH US

Tekno

Smartphone Tanpa Poni Redmi Muncul Sebelum Film Avengers: Endgame!

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Smartphone Tanpa Poni Redmi Muncul Sebelum Film Avengers: Endgame!

Kabar tentang calon smartphone terbaru Xiaomi yang hadir tanpa poni masih terus bergulir. Setelah sebelumnya muncul sebuah foto yang nggak sengaja kefoto menunjukkan smartphone Xiaomi dengan mekanisme kamera dapan pop-up. Kali ini muncul lagi nih fotonya dengan angle yang berbeda.

Kabar tentang smartphone Xiaomi yang hadir tanpa bezel, poni, waterdrop, atau apapun itu di bagian atas layar smartphone, masih ramai menjadi bahan perbincangan. Nggak tanggung-tanggung, bocoran datang dari salah satu petinggi Xiaomi yang memunculkan smartphone ini secara nggak sengaja.

Kali ini beredar juga foto yang menunjukkan smartphone misterius milik Xiaomi. Foto ini berisi brand manajer dari Redmi, Lu Weibing yang kedapatan membawa smartphone misterius dengan tampilan layar depan tanpa poni dan mempunyai bezel yang sangat tipis.

Dilansir dari GSMArena, foto ini sendiri diambil di sebuah bioskop tepat sebelum pemutaran film Avengers: Endgame. Pas dikonfirmasi ke pihak Xiaomi, mereka membenarkan kalau Lu saat itu memang sedang berada di bioskop, namun nggak memberikan komentar apa-apa tentang smartphone misterius tersebut.

Kalo diliat dari fotonya sih kayaknya smartphone tersebut adalah smartphone premium, seenggaknya terlihat dari model smartphone tersebut yang hadir tanpa bezel dan nggak pakai poni. Udah gitu bezel bagian bawah smartphone tersebut juga terlihat tipis banget pula dan keliatan keren banget.

Hal ini sesuai dengan spekulasi yang menyebutkan kalo Redmi mau merilis smartphone dengan mekanisme kamera depan pop-up dan menggunakan chipset Snapdragon 855. Udah gitu, dari foto yang beredar terlihat smartphone tersebut menggunakan user interface khasnya MIUI pula.

Bener atau nggaknya sih masih belum bisa dipastikan, tapi kalo ngeliat dari smartphone tersebut yang beberapa kali tertangkap kamera sedang digunakan oleh petinggi-petinggi Xiaomi sih kayaknya memang benar kalo perusahaan asal China ini lagi ngegarap smartphone dengan kamera depan bermekanisme pop-up.

Ah, kayaknya Xiaomi sengaja nih sama foto-fotonya yang beredar. Masa fotonya bisa pas banget sih, pertama nunjukkin pop-up kamera depan, terus sekarang bagian layarnya pula. Udah gitu pas difoto, masa iya sih ngepas banget si Lu lagi nunjukkin layarnya. Hmmmmm.

Tekno

Go Pro Hero 7 Black Bawa Peningkatan Signifikan Dari Pendahulunya

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Go Pro Hero 7 Black Bawa Peningkatan Signifikan Dari Pendahulunya

Bukan cuma upgrade kecil-kecilan, Go Pro akhirnya mulai menunjukkan tajinya kembali lewat segambreng fitur Go Pro Hero 7. Ada apa aja? Yuk disimak.

Geeq.id, Jakarta – Untuk pasar Action Cam, Go Pro adalah salah satu brand yang cukup rutin untuk mengeluarkan lini terbarunya. Walau sempat mencoba melebarkan sayapnya dengan menghadirkan Go Pro Karma, kini mereka mengaku ingin lebih fokus untuk mengoptimalkan action cam-nya agar bisa menghadirkan berbagai inovasi terbaru di dalam sebuah kamera yang minimalis ini.

“Untuk tahun 2019 ini, Go Pro emang akan fokus untuk action cam aja. Karena, kita memang mau mengembangkan utilitas dari action cam itu sendiri,” aku Benedictus Wijiadi, Product Spesialis Erajaya yang menangani Go Pro kepada Geeqy

Kalau dilihat dari apa yang dibawa oleh Hero 7 Black, memang Go Pro nggak lagi sekedar action cam untuk olahraga ekstrem atau traveling doang. Dari berbagai fitur yang dibenamkan, Go Pro Hero 7 Black bisa dipakai dalam situasi yang lebih beragam. Bahkan, melalui Go Pro Hero 7 Black, lo bisa melakukan live streaming untuk media sosial seperti Instagram.

Yang paling signifikan dari Go Pro Hero 7 Black adalah hadirnya fitur Hypersmooth dan TimeWarp yang sebelumnya nggak ada di Go Pro Hero 6. Hypersmooth ini memungkinkan terminimalisirnya getaran, mampu menghasilkan video yang halus dengan resolusi 4K, Interface yang lebih ramah dan tampilan antarmuka lebih simple serta kekinian.

“Karena udah ada fitur Hypersmooth ini, udah nggak perlu repot bawa-bawa gimbal (gear untuk stabilizer kamera),” ungkap Ryan Berty, influencer dalam bidang fotografi yang tergabung dalam Go Pro Family.

Untuk TimeWarp-nya sendiri juga terasa lebih smooth. Buat yang belum tau, TimeWarp ini adalah jenis pengambilan video seperti time lapse, tetapi jauh lebih stabil meskipun dalam pengeksekusiannya terdapat banyak gerakan, Geeqs. Buat lebih jelasnya, bisa lihat di video perbandingan antara Go Pro Hero 7 Black dan Go Pro Hero 6 Black yang memanfaatkan fitur Hypersmooth dan TimeWarp ini.

Ngiler, Geeqs? Seperti yang udah-udah, harga Go Pro emang berkisar di kisaran Rp 6 jutaan – Rp 7 jutaan. Khusus untuk Go Pro Hero 7 Black, action cam ini dibanderol Rp 6,999,000.

Tekno

Spesifikasinya Bikin Ngiler, DJI Mavic 2 Berseliweran di Game of Drone

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Spesifikasinya Bikin Ngiler, DJI Mavic 2 Berseliweran di Game of Drone

Nggak bernasib kentang seperti Game of Thrones, Game of Drone justru menjadi permainan yang seru buat uji ketangkasan DJI Mavic 2.

Geeq.id, Jakarta – Kehadiran drone menjadikan penggiat fotografi atau sinematografi memiliki keleluasaan dalam mengeksplor angle. Hal ini terbukti dalam gelaran acara Game of Drone yang diadakan oleh DJI bersama Erajaya pada Sabtu, 25 Mei 2019 lalu. Alih-alih memperebutkan tahta, Game of Drone ini justru menjadi ajang drone pilot dan content creator untuk merasakan DJI Mavic 2.

Dalam Game of Drone tersebut, setiap peserta bukan cuma dipamerin dan dibikin ngiler sama DJI Mavic 2 aja, tetapi juga dikasih kesempatan buat nerbangin drone-drone ini. Yeap bener, DJI Mavic 2 memiliki dua varian drone yang masing-masingnya punya spesifikasi cukup ngeri.

Product Specialist DJI Benedictus Wijiadi mengatakan, DJI Mavic 2 ini hadir dengan dua pilihan. Diantaranya, DJI Mavic 2 Pro, dan DJI Mavic 2 Zoom.  Dengan adanya dua pilihan ini, tentunya lo jadi bisa membeli drone yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lo. Dlaam kesempatan yang sama, Benedictus juga memaparkan,

"DJI Mavic 2 Pro sendiri adalah drone pertama yang menggunakan kamera Hasselblad."

Selain menggunakan kamera Hasselblad, DJI Mavic 2 juga dilengkapi dengan sensor 1 inci beresolusi 20 MP. Nggak berhenti sampai disana, salah satu produk teranyar dari DJI ini juga dilengkapi sensor CMOS dengan aperture f/2,8-f/1,1. Dari desainnya sendiri, bisa Geeqy bilang DJI cukup apik untuk mengawinkan spesifikasi yang sangar dengan bodi yang cukup compact untuk dibawa traveling sekalipun.

Untuk varian satunya, DJI Mavic 2 Zoom juga nggak kalah menarik, Geeqs. Dilengkapi dengan formulasi perpaduan digital zoom dan optical zoom, Mavic 2 Zoom ini membuat lo bisa lebih kaya dalam mengeksplorasi gambar. Belum cukup? Drone ini juga udah dilengkapi dengan hybrid auto-focus yang bikin gambar yang dihasilkan lebih tajem dan nggak blur.

"Dengan Mavic 2 Zoom, kamu bisa lebih dekat dengan subjek dengan menggabungkan dua kali optical zoom (24-48 mm) dengan dua kali digital zoom untuk menyimulasikan lensa telefoto 96 mm. Mavic 2 Zoom juga dilengkapi dengan hybrid auto-focus, yang menggabungkan phase and contrast detection untuk akurasi fokus lebih tinggi, yakni dengan peningkatan kecepatan fokus hingga 40 persen lebih cepat," terang Benedictus.

Untuk harganya, DJI Mavic 2 Pro dibanderol lebih murah, yaitu Rp 20 juta. Sedangkan untuk DJI Mavic 2 Zoom, dihargai senilai Rp 26 juta. Bagi yang berminat buat pakai uang THR-nya untuk beli DJI Mavic 2 ini, unitnya bisa dibeli secara offline di Urban Republic Store ya, Geeqs.

Tekno

Bersama UBTECH, Erajaya Hadirkan Iron Man ke Indonesia

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Bersama UBTECH, Erajaya Hadirkan Iron Man ke Indonesia

Seperti pada film yang ada pada MCU, Iron Man ini bisa menembakkan laser, misil, dan berbicara layaknya Tony Stark.

Geeq.id, Jakarta – Semakin melebarkan sayapnya, Erajaya Group kini menggandeng UBTECH Robotics untuk menciptakan robot humanoid cerdas lengkap dengan teknologi AI. Hasil dari kolaborasi ini akhirnya menelurkan Iron Man MK50 yang akan beredar di Indonesia. Bahkan, Iron Man ini bisa lo beli dengan harga yang cukup menggiurkan, yaitu hanya Rp 3,999,000.

Meskipun nggak memakai skala aslinya, robot Iron Man MK50 ini dikembangkan dengan apik oleh UBTECH Robotics. Terlihat lebih bantet dari Iron Man yang kita saksikan di Marvel Cinematic Universe (MCU), nyatanya nggak mengurangi kemampuan dari robot Iron Man MK50. Selain bisa berjalan dan berbicara, robot-robotan ini bisa mengeluarkan kemampuan ala Iron Man yang asli.

Namun jangan salah paham, bukan serta merta dari tangan robot ini akan keluar laser begitu aja. Butuh aplikasi untuk bisa melihat kemampuan dari MK50 ini. Karena, jajaran robot internet of things (IoT) yang lagi digalakkin sama Erajaya ini ternyata bisa dimainkan secara Augmented Reality (AR). Ya, sejenis Pokemon GO gitu lah.

Bedanya, kalau Pokemon GO lo harus menangkap pokemon dan adu pokemon dengan trainer lain, AR ala Iron Man MK50 ini berupa lapangan pertarungan di mana si robot ini harus menghancurkan musuh-musuh yang ada. Selain itu, masih banyak fitur yang bisa lo temuin seperti yang ada di video ini:

“.. Untuk Iron Man MK50 bisa dibeli di retail kami, Urban Republic,” terang Eric Lee, Head of IoT dari Erajaya Group. “Nantinya, produk ini juga akan tersedia di Multi Toys dan e-commerce yang ada di Indonesia seperti Tokopedia, Blibli dan Shopee.”

Daripada THR abis gak jelas, kayaknya boyong Iron Man MK50 asik juga ya, Geeqs. Apalagi buat lo yang pecinta Marvel, kayaknya koleksi lo belom lengkap kalau belum punya ini.

Tekno

Google Hapus 50 Aplikasi Adware, Beberapa Populer di Indonesia!

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Google Hapus 50 Aplikasi Adware, Beberapa Populer di Indonesia!

Dari bulan setahun yang lalu, Google lagi rajin-rajinnya bersih-bersih di layanan Google Play Store-nya. Udah beberapa aplikasi yang akhirnya ditendang dari pasar aplikasinya Google gara-gara ketahuan berbahaya bagi pengguna Android. Sekarang pun Google melakukan hal yag sama, bahkan beberapa aplikasi ada yang populer di Indonesia.

Geeq.id, Jakarta - Berbeda dengan pasar aplikasi milik Apple, yaitu App Store yang dengan ketat memfilter aplikasi-aplikasi yang bisa masuk ke dalam layanannya, Google agak lebih bebas untuk para developer aplikasi Android agar bisa masuk ke dalam layanan Google Play Store. Namun, dalam setahun kebelakang Google malah rajin bersih-bersih pasar aplikasinya dari aplikasi yang mengancam keamanan para penggunanya.

Kali ini juga demikian. Dilansir dari Digital Information World, baru-baru ini Google menghapus lebih dari 50 aplikasi dari layanan Play Store-nya. Dari laporan Avast, yaitu perusahaan keamanan cyber menyebutkan aplikasi-aplikasi tersebut berisi adware, yaitu software yang bisa menampilkan iklan tanpa persetujuan penggunanya.

Aplikasi-aplikasi yang dihapus berupa aplikasi fitness, edit foto, bahkan game ketahuan berisi adware di dalamnya. Beberapa aplikasi bahkan lumayan populer di Indonesia, yaitu Chess Battle, Connect the Dots, Easy Pics Cutter, Magic Gamepad - Stress Releaser & Boredom Blocker, Pro Photo Blur, Free Watermark Camera 2019, Magic Cut Out, dan lainnya.

Buat yang belum tau, adware sendiri adalah sebuah jenis malware yang dapat menampilkan iklan dalam layar penuh secara terus menerus. Malahan dalam beberapa kasus, adware malah menawarkan pengguna untuk menginstall aplikasi yang berisi adware lainnya.

Peneliti juga menemukan dua jenis adware yang udah bertebaran di smartphone Android. Yang pertama tercatat udah terinstall sebanyak 3,6 juta kali dan berisi yang berwujud game sederhana, aplikasi foto editing dan aplikasi fitness. Aplikasi ini tercatat paling banyak diinstall di India, Indonesia, Filipina, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal.

Jenis yang kedua justru disebutkan lebih canggih dari yang pertama. Dari laporan peneliti, jenis kedua bahkan akan melakukan pemeriksaan sebelum menggunakan fungsi iklan layar penuh, dan bahkan dienkripsi. Aplikasi adware ini udah diinstall sebanyak 28 juta kali dan berupa aplikasi musik.

Dari kedua jenis adware tersebut, total udah ada 30 juta smartphone Android yang terinfeksi adware dari aplikasi-aplikasi tersebut. Apakah smartphone lo menjadi salah satunya? 

Film & TV

Review Avengers: Endgame, Lebih dari Sekadar Pembalasan

Arya Despratama | 2 jam yang lalu
Review Avengers: Endgame, Lebih dari Sekadar Pembalasan

Sebagai film puncak Marvel Cinematic Universe, Avengers: Endgame dituntut harus bisa membayar penantian para fans selama 10 tahun terakhir. Apakah secara keseluruhan filmnya dapat memuaskan para penonton? Simak review Geeqy berikut ini.

Geeq.id, Jakarta – Akhirnya penantian para penggemar Marvel di Indonesia tersampaikan setelah Avengers: Endgame resmi ditayangkan serentak di seluruh bioskop tanah air pada 24 April 2019 kemarin. Buat kalian yang udah melihat cuplikannya dari trailer atau teaser yang bertebaran di internet, sepertinya harus hati-hati nih. Sebab ada beberapa adegan palsu dalam cuplikan yang mungkin udah semuanya lo lihat di dunia maya.

Seperti judulnya ‘Endgame’, film ini menceritakan akhir sekaligus babak baru dari para karakter superhero. Kalo di Infinity War, mengkisahkan Avengers yang terpuruk usai melawan Thanos (Josh Brolin), ceritanya kali ini bisa dibilang sebagai pembalasan Captain America Cs untuk mengalahkan sang penguasa Titan.

Namun, yang disuguhkan dalam ceritanya ternyata lebih dari sekadar itu, Geeqs. Gak melulu soal pembalasan yang dijadikan sebagai acuan dalam film ini, tapi juga ada pengorbanan dan pendewasaan dari karakter superhero. Berikut beberapa gambaran yang tersaji dalam Avengers: Endgame.

Keterlibatan Sang Sutradara

Peran Russo bersaudara gak cuma sebagai sutradara dalam film ini. Joe Russo juga ikut ambil bagian sebagai cameo dalam adegan diskusi orang-orang yang hilang. Dalam adegan ini, ia mendapat motivasi dari Captain America (Chris Evans) untuk tetap tegar melanjutkan hidupnya setelah kehilangan orang paling berharganya. Itu merupakan salah satu kejutan yang bisa lo saksikan di filmnya.

Plot Sedikit Kompleks

Sementara kalo dari segi alur cerita, Avengers: Endgame memiliki plot yang cukup kompleks karena dibumbui oleh teori ilmiah seputar ruang dan waktu. Hal inilah yang membawa Avengers untuk memungkingkan mengembalikan semua orang yang hilang akibat jentikkan jari Thanos. Meski sempat ditentang karena terlalu berisiko, tapi seperti yang udah diucapkan berkali-kali dari filmnya, yaitu ‘Apapun resikonya’, para Avengers harus bisa membawa mereka kembali.

Epik di Akhir

Dari segi tone, Anthony dan Joe Russo masih mempertahankan ciri khasnya di Avengers: Endgame. Semenjak memulai debutnya di MCU lewat Captain America: The Winter Soldier, Russo bersaudara ini emang selalu menyisipkan adegan-adegan epik di bagian akhir filmnya.

Dengan durasi tiga jam lebih sebenarnya ada beberapa adegan seru di bagian awal dan tengah filmnya. Namun, itu belum terasa cukup membayar penantian para fans yang telah lama menunggu untuk menyaksikan film ini. Terlepas dari itu, Avengers: Endgame bakal bikin bulu kuduk merinding jelang akhir filmnya.

Ada yang Mati

Soal siapa karakter yang mati dalam Endgame kerap dipertanyakan dan diperdebatkan oleh para penggemar. Nah, bukannya Geeqy mau spoiler, tapi setidaknya ada dua tokoh yang harus berkorban untuk bisa mengembalikan keadaan.

Seperti yang tadi Geeqy bilang, Avengers: Endgame, bukan cuma soal pembalasan, tapi juga pengorbanan dan pendewasaan dari tiap karakter untuk menjadi layaknya superhero. Jadi, apa gunanya menjadi superhero kalo gak berani berkorban untuk banyak orang? Pemilihan tokoh yang mati bisa dibilang tepat mengingat keduanya merupakan pentolan dari Avengers.

Gak Ada Post-Credit Scene

Gak seperti film-film MCU pada umumnya, jangan berharap bisa duduk lama-lama abis nonton filmnya, Geeqs. Sebab, gak ada satu pun post-credit scene yang nongol usai daftar nama pemain dan kru yang terlibat dalam film ini ditampilkan dalam layar lebar.

Hal ini bisa dibilang wajar karena pihak sutradara maupun Marvel Studios benar-benar ingin membuktikan bahwa Avengers: Endgame merupakan bab penutup dari 22 filmnya selama 10 tahun. Jadi, emang gak ada lagi yang perlu ditampilkan sampai era baru MCU dimulai di phase 4 nanti.

Meski memiliki plot yang sedikit kompleks dan perlu menunggu cukup lama untuk bikin bulu kuduk para penonton merinding. Avengers: Endgame bisa dibilang cukup sukses untuk membayar penantian para fans selama 10 tahun terakhir. Geeqy kasih skor sembilan buat mengapresiasi film garapan Russo bersaudara ini.

Tekno

Ini Kata Sang Expert Mengenai Penyebab Kerusakan Galaxy Fold

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Ini Kata Sang Expert Mengenai Penyebab Kerusakan Galaxy Fold

Smartphone layar lipat pertama milik Samsung, Galaxy Fold memang dilaporkan memiliki masalah di layarnya. Hal ini berujung dengan diundurnya perilisan smartphone ini. Lalu apa kata iFixit mengenai smartphone milik perusahaan asal Korea Selatan ini?

Setelah 8 tahun melakukan developmen, ternyata Samsung malah melakukan blunder terhadap smartphone layar lipat pertamanya, yaitu Galaxy Fold. Ini terbukti lewat laporan para reviewer yang mengaku smartphone Galaxy Fold-nya rusak bahkan di hari pertama pemakaian. Para reviewer mengaku Galaxy Fold-nya rusak setelah mereka membuka pelindung layar yang ada di ponsel mereka.

Biar nggak menduga-duga kerusakan layarnya Galaxy Fold, iFixit akhirnya membedah smartphone milik Samsung ini. Dari hasil pembedahannya, kemungkinan kerusakan smartphone ini dikarenakan layarnya yang sensitif terhadap oksigen dan kelembaban yang tinggi.

Emang sih, layar AMOLED yang digunakan di Galaxy Fold menjadi satu-satunya jenis layar yang cukup fleksibel. Namun karena sensifitasnya terhadap oksigen dan kelembaban membuat layar smartphone ini langsung rusak ketika bagian pelindung dilepas oleh para reviewer.

Ketika dibedah, iFixit menemukan celah yang cukup besar di bagian engsel dan layar Galaxy Fold. Nah, celah itulah yang memungkinkan masuknya partikel debu masuk ke dalam layar, padahal layar OLED memang sangat alergi terhadap debu.

Terus kenapa Samsung nggak menemukan permasalahan ini ketika mereka menguji coba layar Galaxy Fold dulu? Apa Samsung memang nggak mengujinya terlebih dahulu?

Nggak mungkin perusahaan sekelas Samsung nggak menguji terlebih dahulu smartphone sebelum resmi diluncurkan. Apa lagi mereka harus berkaca pada kejadian Galaxy Note 7 dulu yang akhirnya harus ditarik dari peredaran gara-gara smartphone ini meledak dimana-mana.

Namun, ada kemungkinan ketika diujicoba desain engsel dan daya tahannya Galaxy Fold, mereka mengujinya di ruangan yang sangat steril dan bersih oleh robot. Jadi debu nggak bisa masuk ke dalam engsel tersebut dan Samsung beranggapan kalau smartphone ini cukup aman.

Kenyataannya, setelah digunakan oleh para pengguna di dalam berbagai kondisi, ada kemungkinan debu tersebut akhirnya masuk ke dalam engsel, apa lagi ketika pelindung layarnya dibuka oleh mereka. Ujung-ujungnya layar Galaxy Fold akhirnya rusak di hari pertama pemakaian.

Pada akhirnya iFixit memberikan skor 2/10 untuk Galaxy Fold. Ini karena smartphone ini mudah untuk dibongkar, namun durabilitinya sangatlah rentan. Komponennya juga dinilai rapuh banget dan sulit untuk diganti oleh para penggunanya. Hmmmm, agak ngeri-ngeri juga ya, harganya Rp 30 juta, tapi nggak taunya gampang rusak.