Tekno

[Review] Vivo V15: Kamera Pop-up, Kualitas Mant-up

Febi Prilaksono | 15 March 2019 - 18:00
[Review] Vivo V15: Kamera Pop-up, Kualitas Mant-up

Kali ini Geeqy bakal review lebih dalam mengenai smartphone yang lagi hype gara-gara perilisan di Indonesia yang mewah sampai diliput stasiun-stasiun TV lokal, yaitu Vivo V15. Harga 4 jutaan, lo udah bisa nikmatin kualitas kamera yang bisa dibilang smartphone-smartphone mahal 'merinding'. Penasaran sama isinya? Langsung simak aja yuk!

Geeq.id, Jakarta - Di awal tahun ini, Vivo sempat menghebohkan para penduduk Indonesia dengan merilis Vivo V15 dengan acara perilisin yang mereka buat di Purwakarta. Nggak tanggung-tanggung, acara ini menghadirkan artis-artis papan atas dan dilipun oleh beberapa stasiun TV swasta berskala nasional.

Mungkin lo bakal memandang sebelah mata untuk urusan spesifikasinya dan dengan harganya yang mencapai Rp 4.399.000 mungkin orang-orang akan berfikir lebih baik beli smartphone punya 'tetangga sebelah'. Namun jangan salah, smartphone ini punya kamera depan dengan desain pop-up beresolusi 32MP dan bukaan f/2.0 yang bikin hasil selfienya dari yang mukanya mirip Thanos mungkin bisa jadi mirip brand ambassadornya mereka, Kang Afgan.

Langsung aja yuk ke pembahasan lebih mendalam tentang smartphone Vivo V15-nya.

Body Tour

Jujur aja, pas pertama kali menggenggam Vivo V15, Geeqy merasa kalo ponsel ini punya body yang solid banget dengan bobot yang pas banget digenggam, kayak pas lo ngegenggam tangan gebetan. Walaupun terlihat seperti menggunakan metal, ternyata bodi belakang ponsel ini hanya berbahan plastik aja Geeqs. Namun nggak usah khawatir, soalnya Vivo kasih softcase secara cuma-cuma buat ngelindungin ponsel ini.

Yang membuat ponsel ini terlihat mewah adalah kelir warna yang ada di bodi belakang dengan gradasi warna yang Geeqy nilai cukup manis dan lengkungan 3D membuat kesan mahal di Vivo V15 menjadi makin kerasa.

Tiga buah kamera diletakkan di bagian kiri atas yang dibuat mononjol membuat desain bodi belakang ponsel ini berbeda dengan ponsel kekinian yang condong ke arah desain ala-ala iPhone X. Di bagian tengah dan agak sedikit ke atas, ada sensor fingerprint yang pas banget ketika ingin digunakan dengan jari telunjuk, nggak terlalu ke atas dan nggak terlalu ke bawah.

Pindah ke bagian depan, memang layar Vivo V15 terasa sangat luas dengan desain yang mereka sebut Ultimate All-Screen Display dimana rasio layar ke bodi mencapai 90%. Ukuran layar ponsel ini sendiri adalah 6,53 inci dengan desain 2,5D rasio 19,5:9 Full HD+ berikut pelindung Gorila Glass generasi kelima yang membuat ponsel ini aman dari segala goresan.

Apa lagi ditambahkan dengan kamera depan yang menggunakan desain pop up, jadi membuat layar ponsel tanpa poni seperti smartphone sekelasnya saat ini. Cocok banget buat lo yang doyan nonton film lewat ponsel, karena layar depannya sangat lebar dan tanpa celah sedikitpun.

Lanjut ke bagian bezel, pada bagian bawah teradat port micro-USB yang Geeqy nilai sangat disayangkan karena para kompetitornya yang sudah mulai migrasi ke port USB type-C. Lalu disamping port tersebut terdapat speaker stereo beserta port jack audio.

Di sisi sebelah kiri terdapat sim tray yang bisa diisi dengan dua SIM card dan juga satu kartu microSD sekaligus, jadi nggak kayak ponsel-ponsel sekarang yang hybrid yang kudu kanibalin satu slot SIM card buat meyisipkan microSD. Ada juga tombol yang kegunaannya bisa disesuaikan, tapi untuk default-nya adalah untuk memanggil Google Assistant. Ke sisi sebelah kanan, terdapat tombol power beserta tombol volume seperti smartphone-smartphone pada umumnya.

Menurut Geeqy sih, untuk ukuran smartphone seharga 4 jutaan, desain Vivo V15 nggak bakal malu-maluin buat dipamerin pas lagi ngajak gebetan first date. Selain desainnya yang terlihat futuristik, desain ponsel ini juga terlihat mewah dan juga solid.

OS dan Fitur

Seperti jajaran ponsel Vivo lainnya, Vivo V15 juga menggunakan user interface FunTouch OS 9.0 dengan base sistem operasi Android 9.0 Pie. Dengan FunTouch OS 9.0, user interface-nya terlihat lebih berwarna-warni dengan pilihan background berwarna gradasi dan ikon yang berwana pastel.

FunTouch OS 9.0 juga kaya akan fitur, seperti Smart motion, Smart mirroring, Smart split, One-handed mode, bahkan ada mode khusus bagi para pengendara motor. Fitur khusus pengendara motor sendiri menurut Geeqy lumayan berguna, jadi ketika fitur ini diaktifkan semua notifikasi akan dimatikan agar para pengendara bisa lebih konsentrasi ketika berkendara.

Ada juga Jovi Image Recoginzer, yaitu artificial intillegence (AI) yang terintegrasi dengan kamera. Jovi sendiri bisa mengidentifikasi objek dan juga membantu pengguna dalam mengambil foto. AI buatan Vivo ini dapat mengidentifikasi 17 pemandangan yang berbeda yang membuat pengalaman berfoto pengguna jauh lebih baik dari pada smartphone lainnya.

Performa dan Baterai

Sebagai smartphone kelas mid-range, Vivo V15 bisa dibilang mempunyai spesifikasi yang nggak spesial, seperti menggunakan chipset Mediatek Helio P70 dengan kapasitas RAM 6GB. Untuk ukuran smartphone kelas menengah, skor Antutu Benchmark cukup lumayan jika dibandingkan dengan kompetitor sekelasnya. Hasil benchmark prosesornya juga bisa dibilang tangguh dengan hasil singel core yang mencapai 1.546 dan 5.630 lewat uji pada Geekbench. Pokoknya skor segitu nggak bakal ngebuat game-game Mobile Legends, PUBG Mobile, dan lainnya nge-lag lah, tentu dengan setting-an yang disesuaikan.

Kayak waktu Geeqy tes kemarin, main Mobile Legends rata kanan dan high frame rate masih sanggup. Sayangnya pas main PUBG Mobile cuma kuat pada setting-an HD aja, tapi tetep dengan pengaturan high frame rate. Padahal waktu itu Geeqy udah pakai fitur Game Mode 5.0 yang bisa mengoptimalkan kinerja Vivo V15 ketika menjalankan game. Malahan katanya fitur ini mampu mengurangi frekuensi nge-lag sampai 300% Tapi tak apa lah, yang penting bisa main dengan frame rate setting-an high aja udah cukup banget buat ponsel 4 jutaan.

Selain buat main game, Geeqy juga coba buat pemakaian sehari-hari, kayak buat sosial media, e-mail, dan nonton Youtube, semua bisa dijalankan dengan lancar ketika berpindah-pindah aplikasi alias multitasking. Ketika dicoba fitur split screen antara WhatsApp dan Youtube, kedua aplikasi juga bisa berjalan dengan sangat mulus. 

Ke bagian baterai, Vivo V15 memiliki kapasitas 4.000 mAh yang dibekali dengan teknologi Dual-Engine Fast Charging. Fitur ini bermanfaat banget nih, soalnya pas Geeqy cobain kemarin cuma butuh nggak sampai dua jam buat nge-charge dari 10% sampai penuh. Kalo katanya Vivo sih fitur ini cuma bisa dipakai kalo menggunakan kepala chargeran Vivo aja. Namun pas kemarin dicoba pakai kepal chargeran dari Motorola G5S Plus, fitur Dual-Engine Fast Charging juga masih berjalan lancar kok.

Nah, buat mengamankan baterai ketika fitur Dual-Engine Fast Charging tetap aman, Vivo melapisi teknologi pengisian baterai ini dengan sembilan lapis pelindung yang akan melindungi baterai dalam proses pengisian daya. Jadi, nggak perlu khawatir baterai jadi bocor atau malah kebakar ya ketika mengisi daya baterai Vivo V15.

Selain fitur yang bisa membuat pengisian daya Vivo V15 jadi secepat kilat, ponsel ini juga dilengkapi dengan fitur yang bisa meningkatkan daya tahan baterai dengan memanfaatkan fitur Low Power Mode dan Super Power Saving Mode. Dengan fitur ini, ponsel ini diklaim bisa bertahan sampai satu harian penuh tanpa perlu di-charge lho. Syaang sih, Geeqy belum sempet nyobain fitur ini karena Geeqy nilai nggak perlu karena adanya fitur fast charging-nya itu sendiri.

Kamera

Lanjut ke bagian kamera. Bisa dibilang sektor inilah yang menjadi nilai jual dari Vivio V15. Ponsel ini pun digadang-gadang menjadi ponsel dengan desain pop-up pada kemera depan yang memiliki lensa berukuran 32MP. Nggak usah khawatir rentan rusak, kamera pop-up pada ponsel ini cukup kokoh dan solid kok. Udah gitu mekanisme keluar masuknya kamera depannya juga lumayan alus, ditambah efek suara robotik jadi terlihat sangat futuristik.

Memang sih, nggak bisa dibohongin, hasil kamera depannya Vivo V15 ini nggak cocok banget buat orang-orang insecure macem Geeqy. Coba aja zoom di bagian wajah pada foto selfie ini, hasil fotonya sangat detail, bahkan sampai ke komedo-komedo yang ada di wajah pun bisa keliatan.

Tapi nggak usah khawatir, ada fitur AI Beauty dimana fitur ini bisa diatur secara manual dengan 13 opsi pengaturan. Mulai dari menghaluskan wajah, mengatur lebar dahi, meniruskan pipi, dan masih banyak lagi. Jadi buat yang mukanya 11-12 sama aspal, hasil fotonya bisa jadi daya tarik di Tinder kalo difoto pakai Vivo V15.

Lalu beralih ke kamera belakangnya yang disebut AI Triple Camera dengan lensa berukuran 12MP f/1.8, 8MP f/2.2 ultra wide angle, dan 5MP f/2.4 yang memiliki depth sensor. Buat lo yang doyan ngoprek-ngoprek kamera, Vivo V15 juga menyediakan fitur Pro macem ponsel-ponsel flagship jaman sekarang.

Nggak cuma itu, bahkan Vivo V15 juga memiliki fitur beauty yang cukup beragam. Kalau biasanya fitur beauty hanya berlaku pada wajah, ponsel ini memiliki fitur beauty yang bisa merampingkan tubuh, mulai dari pinggang, sampai pada bagian kaki.

Bisa dibilang kamera Vivo V15 memang cukup tangguh, diajak foto di tempat yang pencahayaannya cukup hasilnya bagus dengan detail dan warna yang natural, diajak foto dengan kondisi pencahayaan yang kurang juga masih juara. Jadi memang cocoklah kalau bagian kamera dijadikan nilai jual pada smartphone ini.

Kesimpulan

Pros

  • triple slot sim tray
  • Dual turbo fast charging yang bisa mengisi daya ponsel dengan cepat
  • Fitur AI Jovi pada kamera membantu optimasi pengambilan gambar
  • Kamera memiliki kecerahan warna yang cukup akurat
  • Fitur Beauty yang sangat beragam,
  • Terlihat futuristik dengan desain yang anti mainstream
  • Ultimate All-Screen display membantu untuk menikmati multimedia dan bermain game dengan lebih optimal
     

Cons

  • chipset yang kurang powerful untuk di kelas 4 juta
  • Masih mengandalkan bahan polikarbonat sehingga terkesan ringkih

Kalo boleh jujur, untuk lo yang cari ponsel dengan performa tinggi, mungkin lo bisa pilih tetangganya yang harganya juga nggak terlalu jauh dari Vivo V15. Tapi buat lo yang mencari inovasi, layar yang lebar, dan kamera foto yang juga ciamik, Vivo V15 lah jawabannya. Semuanya balik lagi ke kebutuhan masing-masing kok.

8.6

Nilai Keseluruhan
Design
9.0
Features
9.0
Performance
8.0
Trending
Film & TV

Begini Jadinya Kalo Jentikan Jari Thanos Benar-benar Terjadi di Bumi

Arya Despratama | 2 jam yang lalu
Begini Jadinya Kalo Jentikan Jari Thanos Benar-benar Terjadi di Bumi

Jentikan jari Thanos yang memusnahkan setengah populasi manusia telah menjadi masalah terbesar bagi para Avengers. Namun, apa jadinya kalo bencana itu benar-benar terjadi di Bumi? Simak di bawah ini, Geeqs.

Geeq.id, Jakarta –Avengers: Endgame menjadi akhir dari mimpi buruk para Avengers setelah Thanos memusnahkan setengah kehidupan alam semesta dengan kekuatan Infinity Stones. Seketika hampir semua orang berubah menjadi abu begitu sang penguasa Titan menjentikkan jarinya.

Peristiwa tersebut bisa dibilang sebagai kiamat kecil yang membuat umat manusia hilang secara massal. Namun, gimana jadinya kalo jentikkan jari Thanos benar-benar terjadi di dunia nyata? Apakah itu dapat membuat dunia menjadi lebih baik seperti yang diinginkan The Mad Titan?.

Dilansir dari Gizmodo, ahli paleontologi dari Rowan University, Glassboro, New Jersey, Amerika Serikat, Ken Lacovara, menjawab tidak. Ia berujar,

“Itu adalah ide yang buruk dilihat dari segi manapun."

Alasannya adalah efek dari jentikan jari Thanos gak akan berlangsung lama. Hal ini dikarenakan jumlah populasi manusia semakin bertambah dengan jumlah yang besar tiap tahunnya. Sebagai bukti, pada tahun 1960, populasi manusia di dunia berada di kisaran 3 miliar. Lalu, pada tahun 2000, jumlahnya bertambah jadi 6 miliar.

Itu artinya, kalo pertumbuhan manusia terus terjadi secara masif, dan terjadi hilang massal (3,8 miliar dari 7,6 miliar). Bisa dipastikan di 50 tahun yang akan datang, jumlahnya akan kembali seperti semula.

Lalu, bagaiman dengan nasib makhluk hidup lainnya? Ahli perilaku hewan dan evolusi manusia dari Keele University, Inggris, Janet Hoole, menjelaskan bakal ada ketimpangan spesies tergantung dari strategi mereka yang siklus hidupnya lebih lambat.

Dalam hal ini merujuk pada siklus hidup binatang. Hewan yang memiliki siklus hidup yang cepat akan lebih mendominasi dari mereka yang siklus hidupnya lebih lambat. Golongan pertama dapat diwakili oleh kodok yang bisa kembali pada populasi awalnya dalam waktu setahun. Bahkan nyamuk hanya butuh satu periode musim panas untuk berada pada posisi sebelum Thanos menjentikkan jari.

Sedangkan bagi binatang seperti harimau dan badak jawa, mereka justru akan terancam benar-benar punah. Pasalnya, peluang bagi spesies tersebut untuk melakukan reproduksi akan lebih kecil, dan itu membuat mereka semakin rawan akan ancaman perburuan serta penyakit.

Di sisi lain, ahli mikrobiologi, Ben Liberton, menjelaskan apa yang terjadi pada bakteri akibat efek jentikan jari Thanos. Fokusnya tertuju pada bakteri yang berada di tanah dan laut. Kalo setengah dari jenis bakteri tersebut lenyap, dan jumlahnya gak bisa kembali seperti semula dengan cepat, maka akan memberikan ancaman bagi kehidupan yang bergantung dari mereka. Salah satunya adalah tanaman.

Nah, kalo lo berada di posisi itu, kira-kira apa yang bakal lo lakukan, Geeqs?

Subscribe to our newsletter

CONNECT WITH US

Tekno

Smartphone Tanpa Poni Redmi Muncul Sebelum Film Avengers: Endgame!

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Smartphone Tanpa Poni Redmi Muncul Sebelum Film Avengers: Endgame!

Kabar tentang calon smartphone terbaru Xiaomi yang hadir tanpa poni masih terus bergulir. Setelah sebelumnya muncul sebuah foto yang nggak sengaja kefoto menunjukkan smartphone Xiaomi dengan mekanisme kamera dapan pop-up. Kali ini muncul lagi nih fotonya dengan angle yang berbeda.

Kabar tentang smartphone Xiaomi yang hadir tanpa bezel, poni, waterdrop, atau apapun itu di bagian atas layar smartphone, masih ramai menjadi bahan perbincangan. Nggak tanggung-tanggung, bocoran datang dari salah satu petinggi Xiaomi yang memunculkan smartphone ini secara nggak sengaja.

Kali ini beredar juga foto yang menunjukkan smartphone misterius milik Xiaomi. Foto ini berisi brand manajer dari Redmi, Lu Weibing yang kedapatan membawa smartphone misterius dengan tampilan layar depan tanpa poni dan mempunyai bezel yang sangat tipis.

Dilansir dari GSMArena, foto ini sendiri diambil di sebuah bioskop tepat sebelum pemutaran film Avengers: Endgame. Pas dikonfirmasi ke pihak Xiaomi, mereka membenarkan kalau Lu saat itu memang sedang berada di bioskop, namun nggak memberikan komentar apa-apa tentang smartphone misterius tersebut.

Kalo diliat dari fotonya sih kayaknya smartphone tersebut adalah smartphone premium, seenggaknya terlihat dari model smartphone tersebut yang hadir tanpa bezel dan nggak pakai poni. Udah gitu bezel bagian bawah smartphone tersebut juga terlihat tipis banget pula dan keliatan keren banget.

Hal ini sesuai dengan spekulasi yang menyebutkan kalo Redmi mau merilis smartphone dengan mekanisme kamera depan pop-up dan menggunakan chipset Snapdragon 855. Udah gitu, dari foto yang beredar terlihat smartphone tersebut menggunakan user interface khasnya MIUI pula.

Bener atau nggaknya sih masih belum bisa dipastikan, tapi kalo ngeliat dari smartphone tersebut yang beberapa kali tertangkap kamera sedang digunakan oleh petinggi-petinggi Xiaomi sih kayaknya memang benar kalo perusahaan asal China ini lagi ngegarap smartphone dengan kamera depan bermekanisme pop-up.

Ah, kayaknya Xiaomi sengaja nih sama foto-fotonya yang beredar. Masa fotonya bisa pas banget sih, pertama nunjukkin pop-up kamera depan, terus sekarang bagian layarnya pula. Udah gitu pas difoto, masa iya sih ngepas banget si Lu lagi nunjukkin layarnya. Hmmmmm.

Tekno

Go Pro Hero 7 Black Bawa Peningkatan Signifikan Dari Pendahulunya

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Go Pro Hero 7 Black Bawa Peningkatan Signifikan Dari Pendahulunya

Bukan cuma upgrade kecil-kecilan, Go Pro akhirnya mulai menunjukkan tajinya kembali lewat segambreng fitur Go Pro Hero 7. Ada apa aja? Yuk disimak.

Geeq.id, Jakarta – Untuk pasar Action Cam, Go Pro adalah salah satu brand yang cukup rutin untuk mengeluarkan lini terbarunya. Walau sempat mencoba melebarkan sayapnya dengan menghadirkan Go Pro Karma, kini mereka mengaku ingin lebih fokus untuk mengoptimalkan action cam-nya agar bisa menghadirkan berbagai inovasi terbaru di dalam sebuah kamera yang minimalis ini.

“Untuk tahun 2019 ini, Go Pro emang akan fokus untuk action cam aja. Karena, kita memang mau mengembangkan utilitas dari action cam itu sendiri,” aku Benedictus Wijiadi, Product Spesialis Erajaya yang menangani Go Pro kepada Geeqy

Kalau dilihat dari apa yang dibawa oleh Hero 7 Black, memang Go Pro nggak lagi sekedar action cam untuk olahraga ekstrem atau traveling doang. Dari berbagai fitur yang dibenamkan, Go Pro Hero 7 Black bisa dipakai dalam situasi yang lebih beragam. Bahkan, melalui Go Pro Hero 7 Black, lo bisa melakukan live streaming untuk media sosial seperti Instagram.

Yang paling signifikan dari Go Pro Hero 7 Black adalah hadirnya fitur Hypersmooth dan TimeWarp yang sebelumnya nggak ada di Go Pro Hero 6. Hypersmooth ini memungkinkan terminimalisirnya getaran, mampu menghasilkan video yang halus dengan resolusi 4K, Interface yang lebih ramah dan tampilan antarmuka lebih simple serta kekinian.

“Karena udah ada fitur Hypersmooth ini, udah nggak perlu repot bawa-bawa gimbal (gear untuk stabilizer kamera),” ungkap Ryan Berty, influencer dalam bidang fotografi yang tergabung dalam Go Pro Family.

Untuk TimeWarp-nya sendiri juga terasa lebih smooth. Buat yang belum tau, TimeWarp ini adalah jenis pengambilan video seperti time lapse, tetapi jauh lebih stabil meskipun dalam pengeksekusiannya terdapat banyak gerakan, Geeqs. Buat lebih jelasnya, bisa lihat di video perbandingan antara Go Pro Hero 7 Black dan Go Pro Hero 6 Black yang memanfaatkan fitur Hypersmooth dan TimeWarp ini.

Ngiler, Geeqs? Seperti yang udah-udah, harga Go Pro emang berkisar di kisaran Rp 6 jutaan – Rp 7 jutaan. Khusus untuk Go Pro Hero 7 Black, action cam ini dibanderol Rp 6,999,000.

Tekno

Spesifikasinya Bikin Ngiler, DJI Mavic 2 Berseliweran di Game of Drone

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Spesifikasinya Bikin Ngiler, DJI Mavic 2 Berseliweran di Game of Drone

Nggak bernasib kentang seperti Game of Thrones, Game of Drone justru menjadi permainan yang seru buat uji ketangkasan DJI Mavic 2.

Geeq.id, Jakarta – Kehadiran drone menjadikan penggiat fotografi atau sinematografi memiliki keleluasaan dalam mengeksplor angle. Hal ini terbukti dalam gelaran acara Game of Drone yang diadakan oleh DJI bersama Erajaya pada Sabtu, 25 Mei 2019 lalu. Alih-alih memperebutkan tahta, Game of Drone ini justru menjadi ajang drone pilot dan content creator untuk merasakan DJI Mavic 2.

Dalam Game of Drone tersebut, setiap peserta bukan cuma dipamerin dan dibikin ngiler sama DJI Mavic 2 aja, tetapi juga dikasih kesempatan buat nerbangin drone-drone ini. Yeap bener, DJI Mavic 2 memiliki dua varian drone yang masing-masingnya punya spesifikasi cukup ngeri.

Product Specialist DJI Benedictus Wijiadi mengatakan, DJI Mavic 2 ini hadir dengan dua pilihan. Diantaranya, DJI Mavic 2 Pro, dan DJI Mavic 2 Zoom.  Dengan adanya dua pilihan ini, tentunya lo jadi bisa membeli drone yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lo. Dlaam kesempatan yang sama, Benedictus juga memaparkan,

"DJI Mavic 2 Pro sendiri adalah drone pertama yang menggunakan kamera Hasselblad."

Selain menggunakan kamera Hasselblad, DJI Mavic 2 juga dilengkapi dengan sensor 1 inci beresolusi 20 MP. Nggak berhenti sampai disana, salah satu produk teranyar dari DJI ini juga dilengkapi sensor CMOS dengan aperture f/2,8-f/1,1. Dari desainnya sendiri, bisa Geeqy bilang DJI cukup apik untuk mengawinkan spesifikasi yang sangar dengan bodi yang cukup compact untuk dibawa traveling sekalipun.

Untuk varian satunya, DJI Mavic 2 Zoom juga nggak kalah menarik, Geeqs. Dilengkapi dengan formulasi perpaduan digital zoom dan optical zoom, Mavic 2 Zoom ini membuat lo bisa lebih kaya dalam mengeksplorasi gambar. Belum cukup? Drone ini juga udah dilengkapi dengan hybrid auto-focus yang bikin gambar yang dihasilkan lebih tajem dan nggak blur.

"Dengan Mavic 2 Zoom, kamu bisa lebih dekat dengan subjek dengan menggabungkan dua kali optical zoom (24-48 mm) dengan dua kali digital zoom untuk menyimulasikan lensa telefoto 96 mm. Mavic 2 Zoom juga dilengkapi dengan hybrid auto-focus, yang menggabungkan phase and contrast detection untuk akurasi fokus lebih tinggi, yakni dengan peningkatan kecepatan fokus hingga 40 persen lebih cepat," terang Benedictus.

Untuk harganya, DJI Mavic 2 Pro dibanderol lebih murah, yaitu Rp 20 juta. Sedangkan untuk DJI Mavic 2 Zoom, dihargai senilai Rp 26 juta. Bagi yang berminat buat pakai uang THR-nya untuk beli DJI Mavic 2 ini, unitnya bisa dibeli secara offline di Urban Republic Store ya, Geeqs.

Tekno

Bersama UBTECH, Erajaya Hadirkan Iron Man ke Indonesia

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Bersama UBTECH, Erajaya Hadirkan Iron Man ke Indonesia

Seperti pada film yang ada pada MCU, Iron Man ini bisa menembakkan laser, misil, dan berbicara layaknya Tony Stark.

Geeq.id, Jakarta – Semakin melebarkan sayapnya, Erajaya Group kini menggandeng UBTECH Robotics untuk menciptakan robot humanoid cerdas lengkap dengan teknologi AI. Hasil dari kolaborasi ini akhirnya menelurkan Iron Man MK50 yang akan beredar di Indonesia. Bahkan, Iron Man ini bisa lo beli dengan harga yang cukup menggiurkan, yaitu hanya Rp 3,999,000.

Meskipun nggak memakai skala aslinya, robot Iron Man MK50 ini dikembangkan dengan apik oleh UBTECH Robotics. Terlihat lebih bantet dari Iron Man yang kita saksikan di Marvel Cinematic Universe (MCU), nyatanya nggak mengurangi kemampuan dari robot Iron Man MK50. Selain bisa berjalan dan berbicara, robot-robotan ini bisa mengeluarkan kemampuan ala Iron Man yang asli.

Namun jangan salah paham, bukan serta merta dari tangan robot ini akan keluar laser begitu aja. Butuh aplikasi untuk bisa melihat kemampuan dari MK50 ini. Karena, jajaran robot internet of things (IoT) yang lagi digalakkin sama Erajaya ini ternyata bisa dimainkan secara Augmented Reality (AR). Ya, sejenis Pokemon GO gitu lah.

Bedanya, kalau Pokemon GO lo harus menangkap pokemon dan adu pokemon dengan trainer lain, AR ala Iron Man MK50 ini berupa lapangan pertarungan di mana si robot ini harus menghancurkan musuh-musuh yang ada. Selain itu, masih banyak fitur yang bisa lo temuin seperti yang ada di video ini:

“.. Untuk Iron Man MK50 bisa dibeli di retail kami, Urban Republic,” terang Eric Lee, Head of IoT dari Erajaya Group. “Nantinya, produk ini juga akan tersedia di Multi Toys dan e-commerce yang ada di Indonesia seperti Tokopedia, Blibli dan Shopee.”

Daripada THR abis gak jelas, kayaknya boyong Iron Man MK50 asik juga ya, Geeqs. Apalagi buat lo yang pecinta Marvel, kayaknya koleksi lo belom lengkap kalau belum punya ini.

Tekno

Google Hapus 50 Aplikasi Adware, Beberapa Populer di Indonesia!

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Google Hapus 50 Aplikasi Adware, Beberapa Populer di Indonesia!

Dari bulan setahun yang lalu, Google lagi rajin-rajinnya bersih-bersih di layanan Google Play Store-nya. Udah beberapa aplikasi yang akhirnya ditendang dari pasar aplikasinya Google gara-gara ketahuan berbahaya bagi pengguna Android. Sekarang pun Google melakukan hal yag sama, bahkan beberapa aplikasi ada yang populer di Indonesia.

Geeq.id, Jakarta - Berbeda dengan pasar aplikasi milik Apple, yaitu App Store yang dengan ketat memfilter aplikasi-aplikasi yang bisa masuk ke dalam layanannya, Google agak lebih bebas untuk para developer aplikasi Android agar bisa masuk ke dalam layanan Google Play Store. Namun, dalam setahun kebelakang Google malah rajin bersih-bersih pasar aplikasinya dari aplikasi yang mengancam keamanan para penggunanya.

Kali ini juga demikian. Dilansir dari Digital Information World, baru-baru ini Google menghapus lebih dari 50 aplikasi dari layanan Play Store-nya. Dari laporan Avast, yaitu perusahaan keamanan cyber menyebutkan aplikasi-aplikasi tersebut berisi adware, yaitu software yang bisa menampilkan iklan tanpa persetujuan penggunanya.

Aplikasi-aplikasi yang dihapus berupa aplikasi fitness, edit foto, bahkan game ketahuan berisi adware di dalamnya. Beberapa aplikasi bahkan lumayan populer di Indonesia, yaitu Chess Battle, Connect the Dots, Easy Pics Cutter, Magic Gamepad - Stress Releaser & Boredom Blocker, Pro Photo Blur, Free Watermark Camera 2019, Magic Cut Out, dan lainnya.

Buat yang belum tau, adware sendiri adalah sebuah jenis malware yang dapat menampilkan iklan dalam layar penuh secara terus menerus. Malahan dalam beberapa kasus, adware malah menawarkan pengguna untuk menginstall aplikasi yang berisi adware lainnya.

Peneliti juga menemukan dua jenis adware yang udah bertebaran di smartphone Android. Yang pertama tercatat udah terinstall sebanyak 3,6 juta kali dan berisi yang berwujud game sederhana, aplikasi foto editing dan aplikasi fitness. Aplikasi ini tercatat paling banyak diinstall di India, Indonesia, Filipina, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal.

Jenis yang kedua justru disebutkan lebih canggih dari yang pertama. Dari laporan peneliti, jenis kedua bahkan akan melakukan pemeriksaan sebelum menggunakan fungsi iklan layar penuh, dan bahkan dienkripsi. Aplikasi adware ini udah diinstall sebanyak 28 juta kali dan berupa aplikasi musik.

Dari kedua jenis adware tersebut, total udah ada 30 juta smartphone Android yang terinfeksi adware dari aplikasi-aplikasi tersebut. Apakah smartphone lo menjadi salah satunya? 

Film & TV

Review Avengers: Endgame, Lebih dari Sekadar Pembalasan

Arya Despratama | 2 jam yang lalu
Review Avengers: Endgame, Lebih dari Sekadar Pembalasan

Sebagai film puncak Marvel Cinematic Universe, Avengers: Endgame dituntut harus bisa membayar penantian para fans selama 10 tahun terakhir. Apakah secara keseluruhan filmnya dapat memuaskan para penonton? Simak review Geeqy berikut ini.

Geeq.id, Jakarta – Akhirnya penantian para penggemar Marvel di Indonesia tersampaikan setelah Avengers: Endgame resmi ditayangkan serentak di seluruh bioskop tanah air pada 24 April 2019 kemarin. Buat kalian yang udah melihat cuplikannya dari trailer atau teaser yang bertebaran di internet, sepertinya harus hati-hati nih. Sebab ada beberapa adegan palsu dalam cuplikan yang mungkin udah semuanya lo lihat di dunia maya.

Seperti judulnya ‘Endgame’, film ini menceritakan akhir sekaligus babak baru dari para karakter superhero. Kalo di Infinity War, mengkisahkan Avengers yang terpuruk usai melawan Thanos (Josh Brolin), ceritanya kali ini bisa dibilang sebagai pembalasan Captain America Cs untuk mengalahkan sang penguasa Titan.

Namun, yang disuguhkan dalam ceritanya ternyata lebih dari sekadar itu, Geeqs. Gak melulu soal pembalasan yang dijadikan sebagai acuan dalam film ini, tapi juga ada pengorbanan dan pendewasaan dari karakter superhero. Berikut beberapa gambaran yang tersaji dalam Avengers: Endgame.

Keterlibatan Sang Sutradara

Peran Russo bersaudara gak cuma sebagai sutradara dalam film ini. Joe Russo juga ikut ambil bagian sebagai cameo dalam adegan diskusi orang-orang yang hilang. Dalam adegan ini, ia mendapat motivasi dari Captain America (Chris Evans) untuk tetap tegar melanjutkan hidupnya setelah kehilangan orang paling berharganya. Itu merupakan salah satu kejutan yang bisa lo saksikan di filmnya.

Plot Sedikit Kompleks

Sementara kalo dari segi alur cerita, Avengers: Endgame memiliki plot yang cukup kompleks karena dibumbui oleh teori ilmiah seputar ruang dan waktu. Hal inilah yang membawa Avengers untuk memungkingkan mengembalikan semua orang yang hilang akibat jentikkan jari Thanos. Meski sempat ditentang karena terlalu berisiko, tapi seperti yang udah diucapkan berkali-kali dari filmnya, yaitu ‘Apapun resikonya’, para Avengers harus bisa membawa mereka kembali.

Epik di Akhir

Dari segi tone, Anthony dan Joe Russo masih mempertahankan ciri khasnya di Avengers: Endgame. Semenjak memulai debutnya di MCU lewat Captain America: The Winter Soldier, Russo bersaudara ini emang selalu menyisipkan adegan-adegan epik di bagian akhir filmnya.

Dengan durasi tiga jam lebih sebenarnya ada beberapa adegan seru di bagian awal dan tengah filmnya. Namun, itu belum terasa cukup membayar penantian para fans yang telah lama menunggu untuk menyaksikan film ini. Terlepas dari itu, Avengers: Endgame bakal bikin bulu kuduk merinding jelang akhir filmnya.

Ada yang Mati

Soal siapa karakter yang mati dalam Endgame kerap dipertanyakan dan diperdebatkan oleh para penggemar. Nah, bukannya Geeqy mau spoiler, tapi setidaknya ada dua tokoh yang harus berkorban untuk bisa mengembalikan keadaan.

Seperti yang tadi Geeqy bilang, Avengers: Endgame, bukan cuma soal pembalasan, tapi juga pengorbanan dan pendewasaan dari tiap karakter untuk menjadi layaknya superhero. Jadi, apa gunanya menjadi superhero kalo gak berani berkorban untuk banyak orang? Pemilihan tokoh yang mati bisa dibilang tepat mengingat keduanya merupakan pentolan dari Avengers.

Gak Ada Post-Credit Scene

Gak seperti film-film MCU pada umumnya, jangan berharap bisa duduk lama-lama abis nonton filmnya, Geeqs. Sebab, gak ada satu pun post-credit scene yang nongol usai daftar nama pemain dan kru yang terlibat dalam film ini ditampilkan dalam layar lebar.

Hal ini bisa dibilang wajar karena pihak sutradara maupun Marvel Studios benar-benar ingin membuktikan bahwa Avengers: Endgame merupakan bab penutup dari 22 filmnya selama 10 tahun. Jadi, emang gak ada lagi yang perlu ditampilkan sampai era baru MCU dimulai di phase 4 nanti.

Meski memiliki plot yang sedikit kompleks dan perlu menunggu cukup lama untuk bikin bulu kuduk para penonton merinding. Avengers: Endgame bisa dibilang cukup sukses untuk membayar penantian para fans selama 10 tahun terakhir. Geeqy kasih skor sembilan buat mengapresiasi film garapan Russo bersaudara ini.

Tekno

Ini Kata Sang Expert Mengenai Penyebab Kerusakan Galaxy Fold

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Ini Kata Sang Expert Mengenai Penyebab Kerusakan Galaxy Fold

Smartphone layar lipat pertama milik Samsung, Galaxy Fold memang dilaporkan memiliki masalah di layarnya. Hal ini berujung dengan diundurnya perilisan smartphone ini. Lalu apa kata iFixit mengenai smartphone milik perusahaan asal Korea Selatan ini?

Setelah 8 tahun melakukan developmen, ternyata Samsung malah melakukan blunder terhadap smartphone layar lipat pertamanya, yaitu Galaxy Fold. Ini terbukti lewat laporan para reviewer yang mengaku smartphone Galaxy Fold-nya rusak bahkan di hari pertama pemakaian. Para reviewer mengaku Galaxy Fold-nya rusak setelah mereka membuka pelindung layar yang ada di ponsel mereka.

Biar nggak menduga-duga kerusakan layarnya Galaxy Fold, iFixit akhirnya membedah smartphone milik Samsung ini. Dari hasil pembedahannya, kemungkinan kerusakan smartphone ini dikarenakan layarnya yang sensitif terhadap oksigen dan kelembaban yang tinggi.

Emang sih, layar AMOLED yang digunakan di Galaxy Fold menjadi satu-satunya jenis layar yang cukup fleksibel. Namun karena sensifitasnya terhadap oksigen dan kelembaban membuat layar smartphone ini langsung rusak ketika bagian pelindung dilepas oleh para reviewer.

Ketika dibedah, iFixit menemukan celah yang cukup besar di bagian engsel dan layar Galaxy Fold. Nah, celah itulah yang memungkinkan masuknya partikel debu masuk ke dalam layar, padahal layar OLED memang sangat alergi terhadap debu.

Terus kenapa Samsung nggak menemukan permasalahan ini ketika mereka menguji coba layar Galaxy Fold dulu? Apa Samsung memang nggak mengujinya terlebih dahulu?

Nggak mungkin perusahaan sekelas Samsung nggak menguji terlebih dahulu smartphone sebelum resmi diluncurkan. Apa lagi mereka harus berkaca pada kejadian Galaxy Note 7 dulu yang akhirnya harus ditarik dari peredaran gara-gara smartphone ini meledak dimana-mana.

Namun, ada kemungkinan ketika diujicoba desain engsel dan daya tahannya Galaxy Fold, mereka mengujinya di ruangan yang sangat steril dan bersih oleh robot. Jadi debu nggak bisa masuk ke dalam engsel tersebut dan Samsung beranggapan kalau smartphone ini cukup aman.

Kenyataannya, setelah digunakan oleh para pengguna di dalam berbagai kondisi, ada kemungkinan debu tersebut akhirnya masuk ke dalam engsel, apa lagi ketika pelindung layarnya dibuka oleh mereka. Ujung-ujungnya layar Galaxy Fold akhirnya rusak di hari pertama pemakaian.

Pada akhirnya iFixit memberikan skor 2/10 untuk Galaxy Fold. Ini karena smartphone ini mudah untuk dibongkar, namun durabilitinya sangatlah rentan. Komponennya juga dinilai rapuh banget dan sulit untuk diganti oleh para penggunanya. Hmmmm, agak ngeri-ngeri juga ya, harganya Rp 30 juta, tapi nggak taunya gampang rusak.