Tekno

[REVIEW] Jabra Elite 65t: Earbuds Berkualitas yang Bisa Dipakai Mandi

Andhika Dwi Putra | 18 July 2018 - 16:00
[REVIEW] Jabra Elite 65t: Earbuds Berkualitas yang Bisa Dipakai Mandi

Pengalaman terbaik dalam pemakaian earbuds bluetooth adalah ketika kita diberi keleluasaan untuk mengeksplorasi hal-hal yang gak mungkin menjadi mungkin. Dalam hal ini, Jabra Elite 65t telah membuktikannya.

Geeq.id, Jakarta – Pada akhir Juni 2018, Jabra telah resmi membawa Jabra Elite franchise ke Indonesia. Rangkaian dari franchise ini yatu, Elite 65t, Elite Active 65t, Elite 45e, Elite 25e, dan Elite 65e. Yang Geeqy sukain dari Jabra Elite franchise ini adalah kelima produk ini memakai teknologi bluetooth yang begitu menjawab kebutuhan masyarakat urban dengan produktivitas yang tinggi.

Dari awal diperkenalkan, perhatian Geeqy langsung tertuju pada unit earbuds bluetooth yang bernama Elite 65t. Untuk diketahui, unit ini benar-benar hadir sebagai sepasang earbuds yang ditempelkan di telinga, tanpa adanya kabel sedikitpun. Karena ketertarikan ini, Geeqy bakal telanjangi abis-abisan pengalaman Geeqy memakai earbuds ini.

jabra

Desain

Desainnya begitu ergonomis dan mengikuti bentuk telinga, hal ini jugalah yang membuat Geeqy tertarik untuk memiliki earbuds ini. Uniknya, walaupun bahannya didominasi oleh plastik, tampilan earbuds in-ear ini tampak begitu premium dengan paduan warna monokrom, hitam dan abu-abu. Karena ini earbuds in-ear (sumbat di telinga), tentunya ada pilihan karet silikon mulai dari ukuran paling kecil, sampai paling besar.

jabra

Perlu dicatat, teknologi earbuds in-ear ini sendiri sebenarnya punya nilai plus yang sangat baik, Geeqs. Ketika sedang mendengarkan musik, karena modelnya sumbat, noise dari lingkungan sekitar bisa teredam dengan baik. Selain itu, Jabra mendesain Elite 65t dengan sangat apik, sehingga seekstrim apapun gerakannya, karena modelnya, earbuds in-ear ini nggak akan longgar dan jatuh.

Pada Jabra Elite 65t ini, masing-masing earbuds tertanam 2 sensor audio buat mastiin kualitas suara yang jernih ketika melakukan panggilan telepon. Uniknya, microphone ini tertanam pada bodi gagang microphone yang mengingatkan Geeqy dengan model microphone tempo dulu dalam versi sangat pendeknya. Di bagian dalam bodi, terdapat juga masing-masing dua lempengan kuning yang berguna untuk mengisi daya.

Untuk tombol pengaturan, terdapat satu tombol pada earbuds kanan untuk pairing, mengaktifkan Elite 65t ke device yang tersambung, mengaktifkan intruksi suara voice assistant seperti Siri, sampai mengangkat telepon. Di earbuds kiri, terdapat dua tombol yang berguna untuk mengatur volume sampai menggunta-ganti lagu pada playlist yang tersedia.

Jujur, Geeqy awalnya agak ketakutan dengan pilihan model in-ear ini sendiri. Karena Geeqy pribadi lebih suka earphone dengan permukaan yang lebar, terkadang model sumbat bisa membuat lubang telinga sakit. Namun, Geeqy applause kepada Jabra karena membuat ketakutan Geeqy ini terkesan nggak beralasan. Begitu dipakai, Elite 65t ini emang terasa kurang nyaman, tetapi setelah karet silikon diganti ke ukuran terkecil, model in-ear ini ternyata di desain untuk tetap membuat telinga nyaman.

Pengalaman Geeqy setelah lima hari memakai earbuds ini, ada rasa kurang nyaman ketika Elite 65t ini dipakai selama empat jam lebih. Geeqy cobain sambil berkendara menggunakan helm, ada sedikit rasa nggak nyaman, tetapi nggak terlalu signifikan. Overall, earphone ini enak dipakai untuk pemakaian light ke medium yang memakai earphone tiga jam ke bawah. Untuk heavy user, telinga kayaknya harus diistirahatin dulu dari earbuds ini untuk menghindari rasa nyeri.

Konektivitas

Juara! Bisa dibilang, Jabra Elite 65t ini adalah earphone dengan konektivitas terbaik yang pernah Geeqy pakai. Kendala pada earphone bluetooth kebanyakan adalah konektivitas yang nggak stabil dan suka terputus-putus, tetapi dengan earbuds dari Jabra ini, udah nggak ada cerita lagi asik-asiknya denger lagu, tau-tau ada suara noise dan lagu tersendat-sendat.

Kenapa konektivitas Elite 65t ini sangat bagus? Karena udah dilengkapi dengan teknologi Bluetooth 5.0. Perlu diketahui, sekelas Apple dengan Airpods saja masih memakai teknologi bluetooth 4.2 dengan fitur tambahan dari Apple untuk memperkuat koneksi bluetooth. Kehebatan dari Bluetooth 5.0 ini bukan stabilnya doang, Geeqs, tetapi juga kecepatan konektivitas dan juga jauhnya jarak antara dua unit yang tersambung.

Geeqy kasih contoh, kalau bluetooth 4.2 milik Airpods bisa pairing sejauh 10 meter, maka bluetooth 5.0 ini bisa pairing paling minimal dua kalilipatnya, paling maksimal empat kalilipatnya. Geeqy coba di jarak 15 meteran, suara musik udah mulai tersendat-sendat sih. Selain itu, Elite 65t juga bisa terkoneksi dua device dalam satu waktu lho. Jadi lo bisa pairing di laptop dan smartphone tanpa harus status pairing-nya dihapus dulu.

Fitur

Jabra Elite 65t bisa dibilang earbuds bluetooth serba bisa, Geeqs. Selain mendengarkan musik, Elite 65t juga bisa melakukan panggilan telepon dengan sekali klik. Inovatifnya, Jabra membenamkan teknologi yang memungkinkan Elite 65t bisa terhubung dengan voice assistant seperti Google Assistant, Siri, atau Alexa

Buat yang bingung kenapa Geeqy pakai earbuds ini ketika berkendara, itu karena adanya fitur Hearthrough. Fitur ini, memungkinkan lo untuk tetap bisa mendengar suara ambience di sekitar lo. Jadi walaupun terasa kedap karena ada sumpalan earbuds, dengan mengaktifkan fitur ini, telinga lo tetep bisa mendengar suara sekitar dan membuat lo tetap bisa waspada.

Selain itu, perlu dicatat kalau Elite 65t ini udah mengantungi sertifikat IP55 yang membuat earbuds ini udah anti air dan debu. Anti air disini sebenarnya diperuntukkan untuk percikan air atau lelehan keringat ketika dipakai olahraga, tetapi karena Geeqy anti mainstream, Geeqy buktiin kualitas anti air ini dengan menggunakan earphone ini sambil mandi.

Sebenarnya, untuk volume air yang lebih banyak, IP56 lah yang menjamin bisa tahan, tapi pas Geeqy cobain sambil mandi, wah beneran gak ada masalah dong. Malahan ini jadi suatu yang baru dan exciting buat Geeqy. Karena, Geeqy sendiri bisa dikategorikan pendengar musik yang heavy, biasanya Geeqy mandi dengan bawa smartphone dan menyetel volume sekeras-kerasnya.

Namun, volume sekeras apapun, selalu masih kalah dengan suara shower ataupun keran, yang menyebabkan Geeqy gagal eargasm. Ketika Geeqy coba pakai Elite 65t, wah asyik banget, Geeqs. Seakan-akan Geeqy lagi mandi di depan musisinya langsung. Tentu untuk kesehatan mata bersama, gambar gak dilampirkan ya, Geeqs.

jabra

Meski harusnya cuma tahan percikan air, tapi unit Elite 65t milik Geeqy sama sekali nggak bermasalah di IC (integrated Circuit) audio-nya. Nggak perlu direndem beras, suara earbuds ini masih dalam performa optimalnya. Kalaupun percobaan gagal, Geeqy gak khawatir sih, karena Jabra sendiri ngasih garansi selama dua tahun terkait IP55 ini.

Yang paling menggembirakan, kehadiran Jabra Elite franchise ini dipaduin dengan aplikasi bernama Sound+ yang bisa diunduh di Play Store ataupun App Store. Di dalam aplikasi ini, ada berbagai pilihan seperti mengaktifkan Hearthrough, membaca panduan, sampai equalizer lho, Geeqs. Jadinya lo bisa atur suara yang dihasilkan sesuai dengan selera lo.

jabra

Buat Geeqy, penyertaan aplikasi Sound+ dari Jabra ini harus ditauladani sama vendor-vendor earphone sejenis. Karena, fitur ini sangat simpel, tetapi punya dampak yang sangat besar buat penggemar audio yang agak rewel dengan kualitas musik yang dihasilkan.

Kualitas Audio

Ini adalah bagian paling fundamental dari kualitas earphone, apa pun modelnya. Dan selamat untuk Jabra, karena udah mendesain earbuds bluetooth dengan kualitas atas yang sangat rekomendasi untuk dibeli. Pertama yang Geeqy akan bahas, adalah kualitas audio yang kita dengarkan dengan equalizer di posisi default (belum dikustom).

Yang paling Geeqy acungi jempol adalah suara vokal nggak dibelakang (tertutup instrumen). Jabra Elite 65t benar-benar menghasilkan suara yang detail, baik itu pada vocal (Mid), Treble (high), sampai pada bass (low). Namun buat Geeqy sendiri, untuk mereka yang sangat memprioritaskan bass, suara yang dihasilkan memang deep, tetapi nggak terlalu deep dentumannya. Namun ini masalah selera ya, karena disaat dentuman bass nggak dalam, berarti bisa dibilang suara bass ini nggak mengganggu detail-detail dari suara lain.

Untuk separasi dan mixing-nya sendiri, sangat rapih dan harmoni, Geeqs. Pada tahap tes, Geeqy coba menyetel lagu Indonesia berjudul "Bahas Bahasa" milik Barasuara yang emang dikenal sangat kaya instrumennya. Hasilnya, Geeqy bisa mendengarkan tiap detail instrumen musik yang dimainkan bersama-sama.

Selanjutnya mari kita bahas masalah transparansi, atau keaslian suara yang membuat seolah-olah suara tersebut nggak dikeluarkan dari alat bantu. Hasilnya? Sangat memuaskan. Seperti yang Geeqy udah bahas sebelumnya, ada sensasi dimana seakan-akan Geeqy berada di depan musisinya itu sendiri. Sensasi ini membuat Geeqy seperti mendengarkan konser secara langsung dan privat.

Yang paling menarik adalah, ketika Geeqy coba earphone ini untuk bermain PUBG Mobile. Yeap, sebelumnya Jabra nggak pernah ada mention earbuds ini diperuntukkan untuk gaming, tapi karena Geeqy anti mainstream, ya tetep Geeqy cobain. Hasilnya? Suara step kaki yang notabene agak susah buat didengar, jadi bisa kedengaran dengan jelas lho, Geeqs.

Lalu untuk panggilan telepon, nggak perlu khawatir kalau suara akan tenggelam kalau ada di lingkungan yang ramai seperti kereta atau pasar. Karena adanya noise cancellation serta penanaman sepasang sensor audio di masing-masing earbuds, membuat kualitas suara yang dikeluarkan menjadi jernih, dan solid, Geeqs.

Durabilitas

Masalah durabilitas, nggak terlepas juga dengan penggunaan bluetooth 5.0, Geeqs. Karena teknologi ini, efisiensi daya lebih optimal dengan memakan daya baterai lebih sedikit. Untuk earbuds-nya sendiri, bisa tahan lima jam (pengalaman Geeqy sih lebih-lebih dikit). Bila ditambah dengan charging case dalam daya penuh, total durasi pemakaian bisa tembus 15 jam.

Untuk harga sendiri, kalau diintip via platform online shop seperti Tokopedia, rata-rata mulai menjual produk ini seharga Rp 2.290.000. Namun yang bisa Geeqy pastikan, di saat lo memiliki ini, lo bukan hanya membeli prestis, tetapi juga membeli kualitas.

8.6

Nilai Keseluruhan
Design
8.0
Features
9.0
Performance
9.0
Film & TV

Begini Jadinya Kalo Jentikan Jari Thanos Benar-benar Terjadi di Bumi

Arya Despratama | 2 jam yang lalu
Begini Jadinya Kalo Jentikan Jari Thanos Benar-benar Terjadi di Bumi

Jentikan jari Thanos yang memusnahkan setengah populasi manusia telah menjadi masalah terbesar bagi para Avengers. Namun, apa jadinya kalo bencana itu benar-benar terjadi di Bumi? Simak di bawah ini, Geeqs.

Geeq.id, Jakarta –Avengers: Endgame menjadi akhir dari mimpi buruk para Avengers setelah Thanos memusnahkan setengah kehidupan alam semesta dengan kekuatan Infinity Stones. Seketika hampir semua orang berubah menjadi abu begitu sang penguasa Titan menjentikkan jarinya.

Peristiwa tersebut bisa dibilang sebagai kiamat kecil yang membuat umat manusia hilang secara massal. Namun, gimana jadinya kalo jentikkan jari Thanos benar-benar terjadi di dunia nyata? Apakah itu dapat membuat dunia menjadi lebih baik seperti yang diinginkan The Mad Titan?.

Dilansir dari Gizmodo, ahli paleontologi dari Rowan University, Glassboro, New Jersey, Amerika Serikat, Ken Lacovara, menjawab tidak. Ia berujar,

“Itu adalah ide yang buruk dilihat dari segi manapun."

Alasannya adalah efek dari jentikan jari Thanos gak akan berlangsung lama. Hal ini dikarenakan jumlah populasi manusia semakin bertambah dengan jumlah yang besar tiap tahunnya. Sebagai bukti, pada tahun 1960, populasi manusia di dunia berada di kisaran 3 miliar. Lalu, pada tahun 2000, jumlahnya bertambah jadi 6 miliar.

Itu artinya, kalo pertumbuhan manusia terus terjadi secara masif, dan terjadi hilang massal (3,8 miliar dari 7,6 miliar). Bisa dipastikan di 50 tahun yang akan datang, jumlahnya akan kembali seperti semula.

Lalu, bagaiman dengan nasib makhluk hidup lainnya? Ahli perilaku hewan dan evolusi manusia dari Keele University, Inggris, Janet Hoole, menjelaskan bakal ada ketimpangan spesies tergantung dari strategi mereka yang siklus hidupnya lebih lambat.

Dalam hal ini merujuk pada siklus hidup binatang. Hewan yang memiliki siklus hidup yang cepat akan lebih mendominasi dari mereka yang siklus hidupnya lebih lambat. Golongan pertama dapat diwakili oleh kodok yang bisa kembali pada populasi awalnya dalam waktu setahun. Bahkan nyamuk hanya butuh satu periode musim panas untuk berada pada posisi sebelum Thanos menjentikkan jari.

Sedangkan bagi binatang seperti harimau dan badak jawa, mereka justru akan terancam benar-benar punah. Pasalnya, peluang bagi spesies tersebut untuk melakukan reproduksi akan lebih kecil, dan itu membuat mereka semakin rawan akan ancaman perburuan serta penyakit.

Di sisi lain, ahli mikrobiologi, Ben Liberton, menjelaskan apa yang terjadi pada bakteri akibat efek jentikan jari Thanos. Fokusnya tertuju pada bakteri yang berada di tanah dan laut. Kalo setengah dari jenis bakteri tersebut lenyap, dan jumlahnya gak bisa kembali seperti semula dengan cepat, maka akan memberikan ancaman bagi kehidupan yang bergantung dari mereka. Salah satunya adalah tanaman.

Nah, kalo lo berada di posisi itu, kira-kira apa yang bakal lo lakukan, Geeqs?

Subscribe to our newsletter

CONNECT WITH US

Tekno

Smartphone Tanpa Poni Redmi Muncul Sebelum Film Avengers: Endgame!

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Smartphone Tanpa Poni Redmi Muncul Sebelum Film Avengers: Endgame!

Kabar tentang calon smartphone terbaru Xiaomi yang hadir tanpa poni masih terus bergulir. Setelah sebelumnya muncul sebuah foto yang nggak sengaja kefoto menunjukkan smartphone Xiaomi dengan mekanisme kamera dapan pop-up. Kali ini muncul lagi nih fotonya dengan angle yang berbeda.

Kabar tentang smartphone Xiaomi yang hadir tanpa bezel, poni, waterdrop, atau apapun itu di bagian atas layar smartphone, masih ramai menjadi bahan perbincangan. Nggak tanggung-tanggung, bocoran datang dari salah satu petinggi Xiaomi yang memunculkan smartphone ini secara nggak sengaja.

Kali ini beredar juga foto yang menunjukkan smartphone misterius milik Xiaomi. Foto ini berisi brand manajer dari Redmi, Lu Weibing yang kedapatan membawa smartphone misterius dengan tampilan layar depan tanpa poni dan mempunyai bezel yang sangat tipis.

Dilansir dari GSMArena, foto ini sendiri diambil di sebuah bioskop tepat sebelum pemutaran film Avengers: Endgame. Pas dikonfirmasi ke pihak Xiaomi, mereka membenarkan kalau Lu saat itu memang sedang berada di bioskop, namun nggak memberikan komentar apa-apa tentang smartphone misterius tersebut.

Kalo diliat dari fotonya sih kayaknya smartphone tersebut adalah smartphone premium, seenggaknya terlihat dari model smartphone tersebut yang hadir tanpa bezel dan nggak pakai poni. Udah gitu bezel bagian bawah smartphone tersebut juga terlihat tipis banget pula dan keliatan keren banget.

Hal ini sesuai dengan spekulasi yang menyebutkan kalo Redmi mau merilis smartphone dengan mekanisme kamera depan pop-up dan menggunakan chipset Snapdragon 855. Udah gitu, dari foto yang beredar terlihat smartphone tersebut menggunakan user interface khasnya MIUI pula.

Bener atau nggaknya sih masih belum bisa dipastikan, tapi kalo ngeliat dari smartphone tersebut yang beberapa kali tertangkap kamera sedang digunakan oleh petinggi-petinggi Xiaomi sih kayaknya memang benar kalo perusahaan asal China ini lagi ngegarap smartphone dengan kamera depan bermekanisme pop-up.

Ah, kayaknya Xiaomi sengaja nih sama foto-fotonya yang beredar. Masa fotonya bisa pas banget sih, pertama nunjukkin pop-up kamera depan, terus sekarang bagian layarnya pula. Udah gitu pas difoto, masa iya sih ngepas banget si Lu lagi nunjukkin layarnya. Hmmmmm.

Tekno

Go Pro Hero 7 Black Bawa Peningkatan Signifikan Dari Pendahulunya

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Go Pro Hero 7 Black Bawa Peningkatan Signifikan Dari Pendahulunya

Bukan cuma upgrade kecil-kecilan, Go Pro akhirnya mulai menunjukkan tajinya kembali lewat segambreng fitur Go Pro Hero 7. Ada apa aja? Yuk disimak.

Geeq.id, Jakarta – Untuk pasar Action Cam, Go Pro adalah salah satu brand yang cukup rutin untuk mengeluarkan lini terbarunya. Walau sempat mencoba melebarkan sayapnya dengan menghadirkan Go Pro Karma, kini mereka mengaku ingin lebih fokus untuk mengoptimalkan action cam-nya agar bisa menghadirkan berbagai inovasi terbaru di dalam sebuah kamera yang minimalis ini.

“Untuk tahun 2019 ini, Go Pro emang akan fokus untuk action cam aja. Karena, kita memang mau mengembangkan utilitas dari action cam itu sendiri,” aku Benedictus Wijiadi, Product Spesialis Erajaya yang menangani Go Pro kepada Geeqy

Kalau dilihat dari apa yang dibawa oleh Hero 7 Black, memang Go Pro nggak lagi sekedar action cam untuk olahraga ekstrem atau traveling doang. Dari berbagai fitur yang dibenamkan, Go Pro Hero 7 Black bisa dipakai dalam situasi yang lebih beragam. Bahkan, melalui Go Pro Hero 7 Black, lo bisa melakukan live streaming untuk media sosial seperti Instagram.

Yang paling signifikan dari Go Pro Hero 7 Black adalah hadirnya fitur Hypersmooth dan TimeWarp yang sebelumnya nggak ada di Go Pro Hero 6. Hypersmooth ini memungkinkan terminimalisirnya getaran, mampu menghasilkan video yang halus dengan resolusi 4K, Interface yang lebih ramah dan tampilan antarmuka lebih simple serta kekinian.

“Karena udah ada fitur Hypersmooth ini, udah nggak perlu repot bawa-bawa gimbal (gear untuk stabilizer kamera),” ungkap Ryan Berty, influencer dalam bidang fotografi yang tergabung dalam Go Pro Family.

Untuk TimeWarp-nya sendiri juga terasa lebih smooth. Buat yang belum tau, TimeWarp ini adalah jenis pengambilan video seperti time lapse, tetapi jauh lebih stabil meskipun dalam pengeksekusiannya terdapat banyak gerakan, Geeqs. Buat lebih jelasnya, bisa lihat di video perbandingan antara Go Pro Hero 7 Black dan Go Pro Hero 6 Black yang memanfaatkan fitur Hypersmooth dan TimeWarp ini.

Ngiler, Geeqs? Seperti yang udah-udah, harga Go Pro emang berkisar di kisaran Rp 6 jutaan – Rp 7 jutaan. Khusus untuk Go Pro Hero 7 Black, action cam ini dibanderol Rp 6,999,000.

Tekno

Spesifikasinya Bikin Ngiler, DJI Mavic 2 Berseliweran di Game of Drone

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Spesifikasinya Bikin Ngiler, DJI Mavic 2 Berseliweran di Game of Drone

Nggak bernasib kentang seperti Game of Thrones, Game of Drone justru menjadi permainan yang seru buat uji ketangkasan DJI Mavic 2.

Geeq.id, Jakarta – Kehadiran drone menjadikan penggiat fotografi atau sinematografi memiliki keleluasaan dalam mengeksplor angle. Hal ini terbukti dalam gelaran acara Game of Drone yang diadakan oleh DJI bersama Erajaya pada Sabtu, 25 Mei 2019 lalu. Alih-alih memperebutkan tahta, Game of Drone ini justru menjadi ajang drone pilot dan content creator untuk merasakan DJI Mavic 2.

Dalam Game of Drone tersebut, setiap peserta bukan cuma dipamerin dan dibikin ngiler sama DJI Mavic 2 aja, tetapi juga dikasih kesempatan buat nerbangin drone-drone ini. Yeap bener, DJI Mavic 2 memiliki dua varian drone yang masing-masingnya punya spesifikasi cukup ngeri.

Product Specialist DJI Benedictus Wijiadi mengatakan, DJI Mavic 2 ini hadir dengan dua pilihan. Diantaranya, DJI Mavic 2 Pro, dan DJI Mavic 2 Zoom.  Dengan adanya dua pilihan ini, tentunya lo jadi bisa membeli drone yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lo. Dlaam kesempatan yang sama, Benedictus juga memaparkan,

"DJI Mavic 2 Pro sendiri adalah drone pertama yang menggunakan kamera Hasselblad."

Selain menggunakan kamera Hasselblad, DJI Mavic 2 juga dilengkapi dengan sensor 1 inci beresolusi 20 MP. Nggak berhenti sampai disana, salah satu produk teranyar dari DJI ini juga dilengkapi sensor CMOS dengan aperture f/2,8-f/1,1. Dari desainnya sendiri, bisa Geeqy bilang DJI cukup apik untuk mengawinkan spesifikasi yang sangar dengan bodi yang cukup compact untuk dibawa traveling sekalipun.

Untuk varian satunya, DJI Mavic 2 Zoom juga nggak kalah menarik, Geeqs. Dilengkapi dengan formulasi perpaduan digital zoom dan optical zoom, Mavic 2 Zoom ini membuat lo bisa lebih kaya dalam mengeksplorasi gambar. Belum cukup? Drone ini juga udah dilengkapi dengan hybrid auto-focus yang bikin gambar yang dihasilkan lebih tajem dan nggak blur.

"Dengan Mavic 2 Zoom, kamu bisa lebih dekat dengan subjek dengan menggabungkan dua kali optical zoom (24-48 mm) dengan dua kali digital zoom untuk menyimulasikan lensa telefoto 96 mm. Mavic 2 Zoom juga dilengkapi dengan hybrid auto-focus, yang menggabungkan phase and contrast detection untuk akurasi fokus lebih tinggi, yakni dengan peningkatan kecepatan fokus hingga 40 persen lebih cepat," terang Benedictus.

Untuk harganya, DJI Mavic 2 Pro dibanderol lebih murah, yaitu Rp 20 juta. Sedangkan untuk DJI Mavic 2 Zoom, dihargai senilai Rp 26 juta. Bagi yang berminat buat pakai uang THR-nya untuk beli DJI Mavic 2 ini, unitnya bisa dibeli secara offline di Urban Republic Store ya, Geeqs.

Tekno

Bersama UBTECH, Erajaya Hadirkan Iron Man ke Indonesia

Andhika Dwi Putra | 2 jam yang lalu
Bersama UBTECH, Erajaya Hadirkan Iron Man ke Indonesia

Seperti pada film yang ada pada MCU, Iron Man ini bisa menembakkan laser, misil, dan berbicara layaknya Tony Stark.

Geeq.id, Jakarta – Semakin melebarkan sayapnya, Erajaya Group kini menggandeng UBTECH Robotics untuk menciptakan robot humanoid cerdas lengkap dengan teknologi AI. Hasil dari kolaborasi ini akhirnya menelurkan Iron Man MK50 yang akan beredar di Indonesia. Bahkan, Iron Man ini bisa lo beli dengan harga yang cukup menggiurkan, yaitu hanya Rp 3,999,000.

Meskipun nggak memakai skala aslinya, robot Iron Man MK50 ini dikembangkan dengan apik oleh UBTECH Robotics. Terlihat lebih bantet dari Iron Man yang kita saksikan di Marvel Cinematic Universe (MCU), nyatanya nggak mengurangi kemampuan dari robot Iron Man MK50. Selain bisa berjalan dan berbicara, robot-robotan ini bisa mengeluarkan kemampuan ala Iron Man yang asli.

Namun jangan salah paham, bukan serta merta dari tangan robot ini akan keluar laser begitu aja. Butuh aplikasi untuk bisa melihat kemampuan dari MK50 ini. Karena, jajaran robot internet of things (IoT) yang lagi digalakkin sama Erajaya ini ternyata bisa dimainkan secara Augmented Reality (AR). Ya, sejenis Pokemon GO gitu lah.

Bedanya, kalau Pokemon GO lo harus menangkap pokemon dan adu pokemon dengan trainer lain, AR ala Iron Man MK50 ini berupa lapangan pertarungan di mana si robot ini harus menghancurkan musuh-musuh yang ada. Selain itu, masih banyak fitur yang bisa lo temuin seperti yang ada di video ini:

“.. Untuk Iron Man MK50 bisa dibeli di retail kami, Urban Republic,” terang Eric Lee, Head of IoT dari Erajaya Group. “Nantinya, produk ini juga akan tersedia di Multi Toys dan e-commerce yang ada di Indonesia seperti Tokopedia, Blibli dan Shopee.”

Daripada THR abis gak jelas, kayaknya boyong Iron Man MK50 asik juga ya, Geeqs. Apalagi buat lo yang pecinta Marvel, kayaknya koleksi lo belom lengkap kalau belum punya ini.

Tekno

Google Hapus 50 Aplikasi Adware, Beberapa Populer di Indonesia!

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Google Hapus 50 Aplikasi Adware, Beberapa Populer di Indonesia!

Dari bulan setahun yang lalu, Google lagi rajin-rajinnya bersih-bersih di layanan Google Play Store-nya. Udah beberapa aplikasi yang akhirnya ditendang dari pasar aplikasinya Google gara-gara ketahuan berbahaya bagi pengguna Android. Sekarang pun Google melakukan hal yag sama, bahkan beberapa aplikasi ada yang populer di Indonesia.

Geeq.id, Jakarta - Berbeda dengan pasar aplikasi milik Apple, yaitu App Store yang dengan ketat memfilter aplikasi-aplikasi yang bisa masuk ke dalam layanannya, Google agak lebih bebas untuk para developer aplikasi Android agar bisa masuk ke dalam layanan Google Play Store. Namun, dalam setahun kebelakang Google malah rajin bersih-bersih pasar aplikasinya dari aplikasi yang mengancam keamanan para penggunanya.

Kali ini juga demikian. Dilansir dari Digital Information World, baru-baru ini Google menghapus lebih dari 50 aplikasi dari layanan Play Store-nya. Dari laporan Avast, yaitu perusahaan keamanan cyber menyebutkan aplikasi-aplikasi tersebut berisi adware, yaitu software yang bisa menampilkan iklan tanpa persetujuan penggunanya.

Aplikasi-aplikasi yang dihapus berupa aplikasi fitness, edit foto, bahkan game ketahuan berisi adware di dalamnya. Beberapa aplikasi bahkan lumayan populer di Indonesia, yaitu Chess Battle, Connect the Dots, Easy Pics Cutter, Magic Gamepad - Stress Releaser & Boredom Blocker, Pro Photo Blur, Free Watermark Camera 2019, Magic Cut Out, dan lainnya.

Buat yang belum tau, adware sendiri adalah sebuah jenis malware yang dapat menampilkan iklan dalam layar penuh secara terus menerus. Malahan dalam beberapa kasus, adware malah menawarkan pengguna untuk menginstall aplikasi yang berisi adware lainnya.

Peneliti juga menemukan dua jenis adware yang udah bertebaran di smartphone Android. Yang pertama tercatat udah terinstall sebanyak 3,6 juta kali dan berisi yang berwujud game sederhana, aplikasi foto editing dan aplikasi fitness. Aplikasi ini tercatat paling banyak diinstall di India, Indonesia, Filipina, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal.

Jenis yang kedua justru disebutkan lebih canggih dari yang pertama. Dari laporan peneliti, jenis kedua bahkan akan melakukan pemeriksaan sebelum menggunakan fungsi iklan layar penuh, dan bahkan dienkripsi. Aplikasi adware ini udah diinstall sebanyak 28 juta kali dan berupa aplikasi musik.

Dari kedua jenis adware tersebut, total udah ada 30 juta smartphone Android yang terinfeksi adware dari aplikasi-aplikasi tersebut. Apakah smartphone lo menjadi salah satunya? 

Film & TV

Review Avengers: Endgame, Lebih dari Sekadar Pembalasan

Arya Despratama | 2 jam yang lalu
Review Avengers: Endgame, Lebih dari Sekadar Pembalasan

Sebagai film puncak Marvel Cinematic Universe, Avengers: Endgame dituntut harus bisa membayar penantian para fans selama 10 tahun terakhir. Apakah secara keseluruhan filmnya dapat memuaskan para penonton? Simak review Geeqy berikut ini.

Geeq.id, Jakarta – Akhirnya penantian para penggemar Marvel di Indonesia tersampaikan setelah Avengers: Endgame resmi ditayangkan serentak di seluruh bioskop tanah air pada 24 April 2019 kemarin. Buat kalian yang udah melihat cuplikannya dari trailer atau teaser yang bertebaran di internet, sepertinya harus hati-hati nih. Sebab ada beberapa adegan palsu dalam cuplikan yang mungkin udah semuanya lo lihat di dunia maya.

Seperti judulnya ‘Endgame’, film ini menceritakan akhir sekaligus babak baru dari para karakter superhero. Kalo di Infinity War, mengkisahkan Avengers yang terpuruk usai melawan Thanos (Josh Brolin), ceritanya kali ini bisa dibilang sebagai pembalasan Captain America Cs untuk mengalahkan sang penguasa Titan.

Namun, yang disuguhkan dalam ceritanya ternyata lebih dari sekadar itu, Geeqs. Gak melulu soal pembalasan yang dijadikan sebagai acuan dalam film ini, tapi juga ada pengorbanan dan pendewasaan dari karakter superhero. Berikut beberapa gambaran yang tersaji dalam Avengers: Endgame.

Keterlibatan Sang Sutradara

Peran Russo bersaudara gak cuma sebagai sutradara dalam film ini. Joe Russo juga ikut ambil bagian sebagai cameo dalam adegan diskusi orang-orang yang hilang. Dalam adegan ini, ia mendapat motivasi dari Captain America (Chris Evans) untuk tetap tegar melanjutkan hidupnya setelah kehilangan orang paling berharganya. Itu merupakan salah satu kejutan yang bisa lo saksikan di filmnya.

Plot Sedikit Kompleks

Sementara kalo dari segi alur cerita, Avengers: Endgame memiliki plot yang cukup kompleks karena dibumbui oleh teori ilmiah seputar ruang dan waktu. Hal inilah yang membawa Avengers untuk memungkingkan mengembalikan semua orang yang hilang akibat jentikkan jari Thanos. Meski sempat ditentang karena terlalu berisiko, tapi seperti yang udah diucapkan berkali-kali dari filmnya, yaitu ‘Apapun resikonya’, para Avengers harus bisa membawa mereka kembali.

Epik di Akhir

Dari segi tone, Anthony dan Joe Russo masih mempertahankan ciri khasnya di Avengers: Endgame. Semenjak memulai debutnya di MCU lewat Captain America: The Winter Soldier, Russo bersaudara ini emang selalu menyisipkan adegan-adegan epik di bagian akhir filmnya.

Dengan durasi tiga jam lebih sebenarnya ada beberapa adegan seru di bagian awal dan tengah filmnya. Namun, itu belum terasa cukup membayar penantian para fans yang telah lama menunggu untuk menyaksikan film ini. Terlepas dari itu, Avengers: Endgame bakal bikin bulu kuduk merinding jelang akhir filmnya.

Ada yang Mati

Soal siapa karakter yang mati dalam Endgame kerap dipertanyakan dan diperdebatkan oleh para penggemar. Nah, bukannya Geeqy mau spoiler, tapi setidaknya ada dua tokoh yang harus berkorban untuk bisa mengembalikan keadaan.

Seperti yang tadi Geeqy bilang, Avengers: Endgame, bukan cuma soal pembalasan, tapi juga pengorbanan dan pendewasaan dari tiap karakter untuk menjadi layaknya superhero. Jadi, apa gunanya menjadi superhero kalo gak berani berkorban untuk banyak orang? Pemilihan tokoh yang mati bisa dibilang tepat mengingat keduanya merupakan pentolan dari Avengers.

Gak Ada Post-Credit Scene

Gak seperti film-film MCU pada umumnya, jangan berharap bisa duduk lama-lama abis nonton filmnya, Geeqs. Sebab, gak ada satu pun post-credit scene yang nongol usai daftar nama pemain dan kru yang terlibat dalam film ini ditampilkan dalam layar lebar.

Hal ini bisa dibilang wajar karena pihak sutradara maupun Marvel Studios benar-benar ingin membuktikan bahwa Avengers: Endgame merupakan bab penutup dari 22 filmnya selama 10 tahun. Jadi, emang gak ada lagi yang perlu ditampilkan sampai era baru MCU dimulai di phase 4 nanti.

Meski memiliki plot yang sedikit kompleks dan perlu menunggu cukup lama untuk bikin bulu kuduk para penonton merinding. Avengers: Endgame bisa dibilang cukup sukses untuk membayar penantian para fans selama 10 tahun terakhir. Geeqy kasih skor sembilan buat mengapresiasi film garapan Russo bersaudara ini.

Tekno

Ini Kata Sang Expert Mengenai Penyebab Kerusakan Galaxy Fold

Febi Prilaksono | 2 jam yang lalu
Ini Kata Sang Expert Mengenai Penyebab Kerusakan Galaxy Fold

Smartphone layar lipat pertama milik Samsung, Galaxy Fold memang dilaporkan memiliki masalah di layarnya. Hal ini berujung dengan diundurnya perilisan smartphone ini. Lalu apa kata iFixit mengenai smartphone milik perusahaan asal Korea Selatan ini?

Setelah 8 tahun melakukan developmen, ternyata Samsung malah melakukan blunder terhadap smartphone layar lipat pertamanya, yaitu Galaxy Fold. Ini terbukti lewat laporan para reviewer yang mengaku smartphone Galaxy Fold-nya rusak bahkan di hari pertama pemakaian. Para reviewer mengaku Galaxy Fold-nya rusak setelah mereka membuka pelindung layar yang ada di ponsel mereka.

Biar nggak menduga-duga kerusakan layarnya Galaxy Fold, iFixit akhirnya membedah smartphone milik Samsung ini. Dari hasil pembedahannya, kemungkinan kerusakan smartphone ini dikarenakan layarnya yang sensitif terhadap oksigen dan kelembaban yang tinggi.

Emang sih, layar AMOLED yang digunakan di Galaxy Fold menjadi satu-satunya jenis layar yang cukup fleksibel. Namun karena sensifitasnya terhadap oksigen dan kelembaban membuat layar smartphone ini langsung rusak ketika bagian pelindung dilepas oleh para reviewer.

Ketika dibedah, iFixit menemukan celah yang cukup besar di bagian engsel dan layar Galaxy Fold. Nah, celah itulah yang memungkinkan masuknya partikel debu masuk ke dalam layar, padahal layar OLED memang sangat alergi terhadap debu.

Terus kenapa Samsung nggak menemukan permasalahan ini ketika mereka menguji coba layar Galaxy Fold dulu? Apa Samsung memang nggak mengujinya terlebih dahulu?

Nggak mungkin perusahaan sekelas Samsung nggak menguji terlebih dahulu smartphone sebelum resmi diluncurkan. Apa lagi mereka harus berkaca pada kejadian Galaxy Note 7 dulu yang akhirnya harus ditarik dari peredaran gara-gara smartphone ini meledak dimana-mana.

Namun, ada kemungkinan ketika diujicoba desain engsel dan daya tahannya Galaxy Fold, mereka mengujinya di ruangan yang sangat steril dan bersih oleh robot. Jadi debu nggak bisa masuk ke dalam engsel tersebut dan Samsung beranggapan kalau smartphone ini cukup aman.

Kenyataannya, setelah digunakan oleh para pengguna di dalam berbagai kondisi, ada kemungkinan debu tersebut akhirnya masuk ke dalam engsel, apa lagi ketika pelindung layarnya dibuka oleh mereka. Ujung-ujungnya layar Galaxy Fold akhirnya rusak di hari pertama pemakaian.

Pada akhirnya iFixit memberikan skor 2/10 untuk Galaxy Fold. Ini karena smartphone ini mudah untuk dibongkar, namun durabilitinya sangatlah rentan. Komponennya juga dinilai rapuh banget dan sulit untuk diganti oleh para penggunanya. Hmmmm, agak ngeri-ngeri juga ya, harganya Rp 30 juta, tapi nggak taunya gampang rusak.